Beranda / Cerpen / Liburan Tertunda di Radiolog

Liburan Tertunda di Radiolog

Liburan yang Tak Pernah Datang dan Hati yang Tertinggal di Meja Radiologi – Pak Dola dan Ibu Ruminah membaca hasil pemeriksaan radiologi dengan ekspresi sedih namun penuh harapan.

Liburan yang Tak Pernah Datang dan Hati yang Tertinggal di Meja Radiologi

Liburan yang tak pernah benar-benar datang dan hati yang seakan tertinggal di meja radiologi menjadi kisah pagi penuh harapan dan ujian bagi Pak Dola dan Ibu Ruminah. Rencana liburan yang mereka nanti-nantikan terasa semakin dekat, meski urusan kesehatan masih harus mereka hadapi dengan sabar.

Pak Dola bersiap kembali ke sekolah, sementara Ibu Ruminah menyiapkan diri untuk kembali melayani di kantin. Di halaman sekolah, anak-anak bermain dan belajar dengan riang, seolah tak mengetahui pergumulan yang sedang dialami orang dewasa di sekitar mereka. Di tengah keceriaan itu, semangat Ibu Ruminah tetap diuji—seperti daun kering yang berusaha bertahan di ujung kemarau.

Untuk memahami lebih jauh tentang pemeriksaan radiologi dan mengapa ruang ini sering menyisakan kecemasan, Anda dapat membaca penjelasan lengkap dari Mayo Clinic:
https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/x-ray/about/pac-20395303

Langkah yang Berat, Senyum yang Tak Pernah Pudar

Meskipun senyumnya tak pernah pudar dan sapanya tetap ramah, tubuhnya mulai berbisik pelan: lelah. Rasa nyeri di perut kian sering datang tanpa permisi, membuat langkahnya melambat. Walau begitu, seperti biasa, ia memilih diam dan bertahan. Ia percaya, esok mungkin akan terasa lebih baik—meskipun liburan yang tak pernah datang itu masih terasa jauh dari genggamannya.

Baca juga: MENJEMPUT HARAPAN DI UJUNG LORONG MARINI

Suatu pagi yang lembab, rasa sakit itu datang lagi, kali ini lebih tajam dari sebelumnya. Tak sanggup menahan, Bu Ruminah akhirnya berjalan ke rumah seorang ibu tua yang dikenal pandai mengurut.
“Bu, tolong urutkan perut saya. Rasanya aneh sekali,” katanya lirih sambil menahan nyeri.

Ibu tua itu mengangguk pelan, lalu memintanya berbaring. Namun, baru saja tangannya menyentuh perut Bu Ruminah, wajahnya langsung berubah tegang.
“Ini bukan urusan pijat lagi, Bu. Segeralah ke dokter. Saya takut ini sesuatu yang serius.”

Kata-kata itu menggantung di udara, membuat dada Bu Ruminah terasa berat. Dalam hatinya, liburan yang tak pernah datang terasa semakin menjauh, tergantikan oleh rasa takut yang kian menebal.

Langkah ke Rumah Sakit

Beberapa hari kemudian, setelah menimbang-nimbang cukup lama, Bu Ruminah dan suaminya, Pak Dola, akhirnya berangkat ke Rumah Sakit Dinah. Langit pagi itu kelabu, seolah ikut menanggung beban yang belum bernama.
Sesampainya di sana, setelah mendaftar di loket, mereka menuju lantai dua.

“Selamat pagi, Dok,” sapa Bu Ruminah dengan suara lembut namun gugup.
“Selamat pagi. Silakan duduk,” jawab dokter ramah.

Dengan tenang, ia menceritakan keluhannya—nyeri yang datang dan pergi, seperti ombak yang tak pernah benar-benar surut. Dokter mendengarkan dengan seksama, lalu menulis sesuatu di selembar kertas putih.
“Silakan ke bagian radiologi, Bu,” ucapnya singkat namun tegas.

Baca juga: Masa Lalu Pak Dola: Pelajaran Perjalanan & Inspirasi

Perintah sederhana itu terasa berat, seperti undangan menuju ketidakpastian yang panjang. Di kepalanya, Liburan yang Tak Pernah Datang kini berubah makna: bukan lagi tentang waktu bersantai, melainkan tentang harapan yang tertunda.

🌙 Akhir yang Belum Usai

Malam merayap pelan di luar jendela. Hujan berhenti, tetapi bekasnya masih terasa di udara. Di ruang kecil itu, dua hati yang lelah masih bertahan—bukan karena sudah sembuh, melainkan karena masih percaya pada harapan.
Liburan yang Tak Pernah Datang kini bukan sekadar musim yang tertunda, tapi simbol dari perjuangan hidup mereka.

Liburan sekolah akan segera tiba, namun bagi keluarga kecil itu, musim santai belum dimulai. Mereka masih berjalan di lorong panjang bernama kehidupan, menggenggam satu keyakinan sederhana:
🌾 Selama masih ada kasih, selalu ada jalan untuk sembuh.

 

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *