Beranda / Refleksi / 🍽️ 5 Hari MBG SD YPPK

🍽️ 5 Hari MBG SD YPPK

🍽️ Cerita Pakkodoong: Refleksi 5 Hari Program MBG di SD YPPK Gembala Baik

“Cerita Pakkodoong: Refleksi 5 Hari Program MBG di SD YPPK Gembala Baik” menggambarkan perjalanan inspiratif dari pelaksanaan Program Makan Bergizi (MBG) di lingkungan sekolah Katolik Papua ini. Selama lima hari pelaksanaannya, program MBG di SD YPPK Gembala Baik menarik perhatian banyak pihak karena menghadirkan manfaat besar bagi siswa dan orang tua. Di sisi lain, program ini juga memberikan pelajaran berharga tentang kebersihan, kedisiplinan, dan nilai kebersamaan dalam dunia pendidikan dasar.

Baca juga: Program Makan Bergizi Presiden Prabowo di SD YPPK Abepura

Dalam pantauan Cerita Pakkodoong, kegiatan makan bergizi bersama bukan sekadar rutinitas makan di sekolah, melainkan sarana pembentukan karakter, pendidikan sosial, dan kebersamaan antara guru dan murid.

Program MBG di SD YPPK Gembala Baik memberikan pelajaran berharga tentang higienitas, disiplin, serta nilai kebersamaan dalam pendidikan dasar.

🌟 Sisi Positif Program MBG di SD YPPK Gembala Baik

Dari sisi positif, program makan bergizi (MBG) memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dan orang tua. Setiap anak kini mendapatkan asupan makanan bergizi yang disiapkan dengan jadwal dan menu terencana. Selain itu, makan bersama di waktu dan tempat yang sama menumbuhkan rasa kebersamaan dan disiplin sosial di antara siswa.

Untuk informasi lebih lanjut tentang pentingnya gizi seimbang bagi anak dan program makan bergizi di sekolah, Anda bisa mengunjungi:

Bagi orang tua, kehadiran program ini sangat membantu. Mereka dapat menghemat biaya konsumsi harian anak, terutama bagi keluarga dengan kesibukan tinggi di pagi hari.

Lebih jauh, kegiatan makan bersama menciptakan suasana kekeluargaan dan solidaritas di lingkungan sekolah. Anak-anak belajar melayani teman, berbagi, dan menghargai makanan. Dari situ, tumbuh nilai-nilai karakter yang mendukung visi pendidikan yang utuh.

🤝 Momen Kebersamaan Guru dan Murid

Salah satu momen paling berkesan dalam pelaksanaan Program MBG adalah momen kebersamaan antara guru dan murid. Biasanya, guru berada di depan kelas untuk mengajar, namun dalam kegiatan MBG, peran itu seolah berubah: guru duduk bersama murid, menikmati makan dalam suasana hangat dan akrab.

Seperti yang diamati Cerita Pakkodoong, Bapak Dolla, salah satu guru di SD YPPK Gembala Baik, tampak menikmati momen makan bersama murid di dalam kelas.

Bapak guru duduk di meja guru, sementara para murid di meja masing-masing—namun suasananya terasa seperti satu keluarga yang makan bersama di rumah sendiri.

Momen sederhana ini menyatukan guru dan murid dalam keakraban yang jarang terjadi di ruang kelas biasa. Tidak ada jarak, tidak ada formalitas—hanya kebersamaan yang tulus, penuh tawa, dan rasa syukur atas rezeki yang dibagikan bersama.

Inilah sisi manusiawi pendidikan yang sering luput dari perhatian: pendidikan bukan hanya soal pelajaran, tapi juga soal hubungan dan kebersamaan.

🧼 Catatan Penting: Higienitas dan Sanitasi Program MBG

Meski manfaatnya besar, Cerita Pakkodoong mencatat sejumlah tantangan terkait higienitas dan sanitasi.

Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terlihat kewalahan melayani lebih dari 800 anak setiap hari. Akibatnya, beberapa insiden kecil menjadi perhatian serius, seperti ditemukannya rambut di makanan dan tahi cicak di penutup wadah.

Kondisi ini menunjukkan perlunya pengawasan kebersihan yang lebih ketat, termasuk pemeriksaan peralatan, dapur, dan area penyajian.

Sekolah telah berupaya memberikan imbauan agar anak-anak mengecek makanan sebelum dikonsumsi, namun kolaborasi antara pihak pengelola, guru, dan orang tua tetap menjadi kunci keberhasilan.

📚 Dampak Program MBG terhadap Kegiatan Belajar

Selain isu kebersihan, pelaksanaan program MBG turut memengaruhi ritme kegiatan belajar mengajar (KBM). Beberapa siswa harus membantu mengambil dan membagikan makanan kepada teman-temannya. Aktivitas ini memang melatih tanggung jawab, namun pelaksanaannya yang berada di jam pelajaran sering kali membuat fokus belajar terganggu.

Wali kelas juga terlihat sibuk mengatur jalannya pembagian makanan, memastikan wadah makan tertata rapi dan tidak ada yang tertinggal. Di sisi lain, sebagian orang tua memilih tidak mengikutsertakan anak mereka karena kekhawatiran terkait keamanan makanan, meskipun pihak sekolah telah menegaskan bahwa langkah-langkah pencegahan telah dijalankan.

Pada salah satu hari pelaksanaan, terpantau terjadi keterlambatan dropping makanan untuk beberapa kelas. Dari enam kelas paralel, tiga kelas menerima makanan lebih cepat sementara tiga kelas lainnya harus menunggu, sehingga kondisi ini sempat mengganggu kelancaran KBM di kelas.

💡 Nilai Edukatif di Balik Program MBG

Terlepas dari tantangan, program MBG di SD YPPK Gembala Baik tetap mengandung nilai edukatif tinggi.

Anak-anak belajar untuk disiplin, peduli, dan bekerja sama. Mereka menemukan arti kebersamaan melalui kegiatan sederhana: makan bersama.

Para guru pun menilai, pengalaman ini membentuk karakter positif siswa—belajar bersyukur, menghargai makanan, dan menjaga kebersihan. Bahkan, sisa makanan yang tidak terpakai dimanfaatkan dengan bijak oleh warga sekolah yang memiliki ternak, sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia.

🎵 Baca juga : Lebih dari Sekadar Petikan Senar: Makna Mendalam di Balik Ekskul Ukulele

🪞 Refleksi Cerita Pakkodoong: Belajar dari Program MBG

Bagi Cerita Pakkodoong, Program Makan Bergizi (MBG) bukan sekadar rutinitas makan di sekolah. Ini adalah pembelajaran sosial dan manajerial yang nyata bagi semua pihak.

Guru, siswa, dan orang tua bersama-sama belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, dan pentingnya evaluasi berkelanjutan.

Setiap program memang tidak lepas dari kekurangan, namun di baliknya tersimpan peluang besar untuk perbaikan dan inovasi.

Dengan semangat reflektif, Program MBG di SD YPPK Gembala Baik dapat menjadi contoh inspiratif tentang pendidikan yang memadukan gizi, karakter, dan kebersamaan.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *