Beranda / Cerpen / Langit Abepura Tersenyum

Langit Abepura Tersenyum

Ketika Langit Abepura Tersenyum: Harapan yang Tak Padam

Sore itu, langit Abepura menggantung kelabu, seolah mengisap letih yang menempel di pundak dua insan. Pak Dola dan Ibu Ruminah pulang dari rumah sakit. Mereka tak membawa jawaban, tetapi tetap membawa harapan. Dengan langkah pelan, mereka memanggul kegelisahan yang tak kunjung reda. Mereka terus mencari kamar rawat inap, namun setiap pintu tertutup. Kabar operasi hanya melayang, seperti layang-layang tanpa angin—terombang-ambing tanpa arah. Di banyak wilayah Papua, perjuangan pasien menemukan layanan kesehatan yang layak memang masih menjadi kenyataan pahit. Baca sumber lengkap di Repositori Ditjen Nakes.

Keheningan Rumah dan Gelombang Penantian

Sesampainya di rumah, mereka segera merebahkan diri. Tempat tidur memeluk mereka penuh sabar, dan mata pun perlahan terpejam—bukan karena lelah, melainkan pasrah. Malam terasa sunyi. Namun, pikiran terus merajut pertanyaan yang sama: Kapan operasi? Kapan kamar akan tersedia? Kapan suster menghubungi

Baca Juga: Menjemput Kesembuhan di Ujung Penantian

Mentari Baru, Harapan Baru

Pagi datang membawa sinar hangat. Mentari menyapa seperti teman lama yang membisikkan semangat. Meski begitu, bayang-bayang keraguan tetap menggantung di wajah Pak Dola. Ia memutuskan untuk tidak pergi bekerja. Baginya, menjaga istrinya jauh lebih penting daripada sekadar mengisi daftar absen. Sepanjang pagi, ia terus mengecek ponsel. Namun, layar hanya menyala dan kembali padam, seolah membalasnya dengan sunyi.i.

Saran yang Menyulut Nyala Baru

Ketukan pintu memecah pagi. Seorang adik suster datang dan membawa udara baru ke ruang yang sempat sesak oleh penantian. Ibu Ruminah langsung bercerita bahwa mereka sudah ke RS Marini, tetapi kamar belum tersedia. Mendengar itu, sang tamu segera menyarankan untuk mencoba rumah sakit lain.

Saran itu tak hanya lewat begitu saja. Kata-kata itu langsung menancap di hati Pak Dola. Ia pun bergerak cepat. Ia segera berangkat untuk mencari harapan lain—karena harapan yang sempat layu harus segera disiram. Demi Ibu Ruminah, ia rela mengabaikan jam kerja dan melangkah keluar dengan tekad baru.

🌟Baca juga:  Kresek Hitam, Cinta, dan Drama BPJS

Harapan yang Tersandung Waktu

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Saat mereka tiba di rumah sakit tujuan, waktu pendaftaran hampir habis. Pak Dola berdiri di depan loket, hatinya dipenuhi keraguan. Tiba-tiba mesin berbunyi—pertanda pendaftaran sudah ditutup. Ia menolak pulang dengan tangan kosong. Dengan cepat ia melangkah menuju kantor BPJS dan memeriksa semua berkas. Ia ingin memastikan semuanya lengkap agar siap begitu kesempatan berikutnya datang. (Pelajari prosedur layanan BPJS di situs resminya: https://www.bpjs-kesehatan.go.id)

Sementara itu, Ibu Ruminah dan adik suster menyusul dengan motor. Meski tubuh mereka lelah, harapan tetap menyala di dada. Mereka bergegas, berharap pendaftaran masih terbuka. Namun ketika tiba, petugas sudah menutup pintu. Tidak ada celah. Semua pintu benar-benar tertutup malam itu. Meski begitu, harapan mereka tetap hidup—seperti nyala kecil di tengah gelap, yang tak pernah benar-benar padam.

Diam yang Membawa Jawaban

Mereka pulang dalam diam. Di rumah, udara seolah ikut menahan napas. Ponsel Pak Dola sedang diisi daya dan mati, jadi ia tak bisa melihat pesan yang mungkin sudah masuk. Namun, senja membawa jawaban. Saat ponsel dinyalakan, satu panggilan tak terjawab langsung muncul: dari suster, pukul 15.00 WIT.

Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol hijau. Tidak tersambung. Ia mencoba lagi dan lagi, tetapi tetap gagal. Pesan WhatsApp yang ia kirim hanya menunjukkan dua centang abu-abu. Meski begitu, ia tetap berharap. Tanpa ragu, Pak Dola meminjam ponsel tetangga dan segera menghubungi nomor sang suster.

Cahaya Harapan Menyapa

Kali ini, mereka berhasil. Suara suster yang tergesa-gesa langsung menyahut, “Pak, segera ke rumah sakit sekarang! Ada kamar kosong!” Tanpa berpikir, mereka langsung bergegas. Taksi online tiba seketika, seolah jawaban dari doa mereka. Sepanjang jalan, Pak Dola menggenggam tangan Ibu Ruminah erat. Genggaman itu menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam: “Kita pasti sampai.

Menuju IGD: Babak Baru dalam Penantian

Setiba di rumah sakit, aroma disinfektan langsung menyambut mereka. Tanpa menunda waktu, mereka segera menuju IGD. Langkah mereka cepat namun tetap hati-hati, seakan membawa mimpi yang rapuh dan mudah pecah.

Mereka duduk di ruang tunggu yang dingin dan serba putih. Begitu petugas memanggil nama, mereka berdiri serempak dan langsung maju. Pak Dola menyerahkan berkas, petugas memberi arahan, dan mereka mengangguk paham. Setiap gerakan seolah menjadi bagian dari ritual panjang yang terus membawa mereka selangkah lebih dekat pada kesembuhan.

Baca juga : MENJEMPUT HARAPAN DI UJUNG LORONG MARINI

Senyuman yang Membasuh Cemas

Suster itu menyambut mereka dengan senyum lega.

“Untung Bapak cepat datang. Kalau tidak, orang lain sudah menempati kamar ini.”

Waktu seolah berhenti. Syukur yang lama mengendap mulai mengalir dalam diri Pak Dola. Seperti padang ilalang yang akhirnya menerima hujan pertama, doa-doa mereka tumbuh menjadi bunga harapan yang perlahan merekah.

Ketika Langit Abepura Ikut Tersenyum

Di penghujung penantian, mereka akhirnya menemukan jalan menuju kesembuhan. Tubuh yang melemah perlahan menguat, dan hati yang retak akibat ketidakpastian kembali utuh. Malam itu, mereka beristirahat dengan penuh syukur, bukan lagi dengan rasa letih. Untuk pertama kalinya, langit Abepura turut tersenyum. Langit itu ikut merayakan harapan yang bertahan, meski telah diguncang badai hebat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *