Beranda / Humoria / Humoria KBG | Cerita Lupa Kacamata yang Mengocok Perut

Humoria KBG | Cerita Lupa Kacamata yang Mengocok Perut

Humoria KBG | Cerita Lupa Kacamata yang Mengocok Perut dalam cerita humoria tentang kisah lupa kacamata paling kocak ini, aku mengajak pembaca menyelami malam ibadah KBG yang awalnya tenang dan khusyuk. Namun, suasana tenang itu berubah seketika menjadi panggung komedi ketika seorang Bapak muncul dengan “gaya baru”: ia menyisipkan kacamatanya rapi di atas dahi, menjadikannya seperti aksesori ala drama Korea, sementara matanya bekerja lembur tanpa alat bantu.

🌙 Ibadah Dimulai, Drama Ikut Menyapa

Malam itu, aku membuka ibadah dengan suara penuh kehangatan. Pada waktu yang sama, Bapak yang memimpin ibadah berdiri dengan wibawa. Anehnya, ada satu benda kecil yang menonjol di wajahnya—aksesori yang seharusnya berada di mata, bukan di dahi.
Meskipun demikian, aku berusaha tetap fokus, walau sesekali rasa geli muncul seperti sedang menonton tayangan komedi.

📖 Dari Firman Jadi Puzzle Tulisan Kecil

Saat pembacaan Alkitab dimulai, suasana langsung berubah menjadi semakin lucu. Leher Bapak bergerak gesit ke berbagai arah, seolah ia mencari sumber suara. Matanya memicing keras, berusaha membaca ayat yang tiba-tiba tampak seperti huruf 5pt di undangan nikah.
Aku ingin tertawa, tetapi aku menahan diri dengan sisa kesabaran yang kupunya.
Anehnya, ia terus membaca dengan tekad luar biasa—ia mengusahakan setiap kata dengan semangat penuh, meski matanya tampak sangat lelah.
Sementara itu, benda kecil yang ia cari-cari tetap nongkrong santai di tempat paling mencolok.

Anehnya, ia terus melanjutkan bacaan dengan tekad luar biasa—ia mengusahakan setiap kata dengan penuh semangat meskipun matanya menunjukkan kelelahan yang jelas.
Sementara itu, benda kecil yang ia cari-cari tetap bertengger dengan santai di tempat paling mencolok.
Baca selengkapnya:https://bit.ly/kacamata-kumparan

🎉 Ibadah Selesai, Misteri Terbongkar Seperti Plot Twist Drama Korea

Begitu ibadah berakhir, aku berjalan mendekatinya. Senyumku sudah mirip orang memegang rahasia besar.

Dengan gaya sok serius, aku bertanya,

“Bapak, kacamata di dahi itu gaya baru kah? Kayak oppa-oppa Korea begitu?”

Baca juga : Jangan Jadi Orang Ketiga Tunggal

Ia langsung tertawa sambil menepuk dahinya—tempat kacamata itu nangkring dengan santainya.
“Aduh! Dari tadi saya mencari kacamata saya! Saya sampai hampir menangis baca firman Tuhan! Saya kira saya lupa membawa!”
Setelah itu, ia mengelus dahinya sambil menggeleng.
“Ternyata dari tadi ada di sini… di atas muka saya sendiri! Aduh, malunya…”

Saat itu kami meledak tertawa.
Yang lain ikut terbahak, dinding seperti ikut tersenyum, bahkan kipas angin di pojok pun bergetar bahagia.

Baca juga: Kisah Lucu Yesus & Murid – Batu dan Iman

🤣 Candaan Balasan yang Membuat Tawa Menggema

Aku menimpali sambil menahan napas karena terlalu banyak ketawa,

“Saya mau tegur tadi, tapi saya pikir Bapak lagi trendsetter baru.”

Ia menjawab cepat,

“Trendsetter bagaimana? Tadi saya hampir memanggil para usher untuk memegang Alkitab yang lebih besar!”

Tawa pun naik ke level premium.

💡 Pelajaran yang Datang dari Dahi

Meskipun kami tertawa sampai pipi keram, aku tetap menangkap pelajaran penting.
Ternyata, kita melupakan barang bukan hanya karena usia; kadang otak kelelahan, mata kehabisan tenaga, tubuh meminta istirahat, atau pikiran melayang memikirkan menu makan malam.
Dan yang terpenting, sebelum kita panik mencari kacamata, cek dulu dahi.
Siapa tahu kacamata itu sedang nongkrong di sana sambil menikmati pemandangan.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *