Beranda / Cerpen / Peziarah Malam Cycloop | Renungan Sunyi di Malam Sentani

Peziarah Malam Cycloop | Renungan Sunyi di Malam Sentani

Peziarah Malam Cycloop | Renungan Sunyi di Malam Sentani, sebuah kisah tentang peziarah malam di kaki Cycloop yang meniti perjalanan rohani, dimulai ketika malam itu turun pelan-pelan, seperti selimut tua yang kembali mencari bahunya sendiri. Sementara itu, udara Sentani menggigit perlahan, seolah ingin mengingatkan siapa pun yang masih terjaga bahwa dingin juga punya suara. Di saat yang sama, Sanggar Samadi Santa Clara—rumah sunyi yang menjadi tempat rekoleksi dan perjalanan batin—berdiri tegak di bawah kaki Gunung Cycloop, menjaga diamnya dengan setia. Namun demikian, pada malam itu, bukan para pastor yang menjadi sahabat kesunyian, melainkan Pak Dola, seorang peziarah malam yang tengah menata langkah batinnya.

Keheningan Beranda dan Panggilan Sunyi

Pak Dola duduk sendirian di beranda. Lampu temaram berkedip-kedip, ragu untuk tetap menyala. Sementara itu, angin malam mengusap wajahnya, seolah tahu ada beban yang ia sembunyikan di dadanya. Ia menarik napas panjang, lalu pertanyaan yang sejak sore menari kembali berbisik di telinganya.

“Apakah ini rekoleksi terakhirku?” gumamnya. Kata itu jatuh begitu saja, seperti akhirnya daun kering yang kehilangan pegangan.

Kedatangan Pak Nusa: Teman Peziarah

Tiba-tiba, langkah seseorang memecah hening. Pak Nusa muncul dari balik pintu, membawa kehangatan kecil dalam wajah ramahnya.

Tak lama kemudian, ia mendekat dan bertanya, “Pak Dola, ngapain sendirian di sini?” Suaranya seperti ketukan halus pada pintu kesenyapan.

Pak Dola tersenyum tipis. “Mata belum mau diajak berunding.”

Sementara itu, angin berdesir, seolah menertawakan kebohongan kecil itu. Namun demikian, kehadiran Pak Nusa menciptakan transisi hangat di tengah dinginnya malam.

Percakapan yang Membuka Luka dan Harapan

Percakapan mereka mengalir perlahan. Kemudian, ketika Pak Nusa menanyakan alasan mengapa rekoleksi ini mungkin yang terakhir, Pak Dola menatap gelap seakan mencari jawaban di sana.
Pelan-pelan, ia menarik napas sebelum berkata,
“Setiap orang sampai pada ujung perjalanannya. Kadang waktu habis, kadang jalan harus berbelok,” katanya.
Dengan begitu, kata-katanya melayang seperti asap dari api kecil yang hampir padam.

Untuk mengalihkan suasana, Pak Dola balik bertanya soal peserta rekoleksi

Dengan antusias, Pak Nusa menceritakan tema Tahun Yubileum 2025—Peziarah Harapan. Malam pun mendengarkan, sementara dua laki-laki itu perlahan masuk ke ruang refleksi yang lebih dalam.
https://parokiherkulanus.org/refleksi-ziarah-yubileum-2025-lingkungan-yakobus-rasul-bersatu-dalam-doa-dan-berserah-dalam-peziarahan/

Jejak Rekoleksi: Dari Peziarah Hingga Penenun Kata

Sesi Pertama: Menjadi Peziarah Harapan

Selama dua hari, para guru dan pegawai SD YPPK Gembala Baik mengikuti rekoleksi bersama RD Paulus Tan. Pesan rohaninya mengalir seperti cahaya lilin yang keras kepala menolak padam.

Pada sesi pertama, Romo mengajak peserta melihat diri sebagai peziarah: pengembara yang bukan hanya berjalan, tetapi bertumbuh.
“Guru adalah pembawa harapan,” katanya. Kata-katanya mengalir seperti sungai yang menemukan jalannya sendiri.

Diskusi kelompok kecil pun berkembang menjadi ladang benih kebaikan. Di sana muncul kalimat-kalimat yang menyalakan optimisme baru.

Baca juga: Menjemput Harapan di Ujung Lorong Marini

Sesi Kedua: Kebaikan yang Menyembuhkan

Pada sesi kedua, topik bergeser menjadi kebaikan. Romo bertanya dengan lembut namun tegas:

“Apa kebaikan dalam dirimu yang masih terbungkus?”
“Seberapa sering kamu menahan kasih?”

Pertanyaan itu menembus hati peserta seperti cahaya pagi yang menerobos kabut.

Sesi ketiga menyoroti kekuatan kata. Romo mengutip Efesus 4:29–32, lalu menggambarkan kata sebagai benang yang menenun kehidupan.

  • Pujian — benang emas

  • Penghiburan — benang biru lembut

  • Teguran kasih — benang merah kuat

  • Kata kasar — noda yang sulit hilang

Pada akhirnya, setiap peserta menulis satu kalimat kebaikan sebagai janji kecil untuk sesama.

Penutup Rekoleksi: Keberjagaan Rohani

Rekoleksi ditutup dengan misa. Dalam homilinya, RD Paulus Tan menekankan:
“Jangan pernah berkata masih ada waktu.”
Kata itu menggantung di udara seperti alarm yang mengingatkan agar manusia tidak lagi tertidur secara rohani.

Kembali ke Beranda: Dua Peziarah Menemukan Makna

Serpihan Refleksi yang Disebut Harapan

Kini, di beranda dingin itu, Pak Dola dan Pak Nusa seperti sedang menjahit kembali serpihan makna yang mereka bawa.

“Saya seperti kaca yang digosok ulang,” kata Pak Nusa.

“Saya seperti lilin tua yang disulut kembali,” balas Pak Dola.

Angin tiba-tiba menghangat sedikit, seolah malam tersenyum mendengarkan.

Ajakan Masuk dan Hadiah Persahabatan

Sentani tetap dingin. Udara mencubit kulit mereka seperti jari-jari es.

“Kita masuk, Pak, nanti jadi patung es,” ujar Pak Nusa sambil berdiri.

Sebelum pintu tertutup, Pak Dola berkata lirih, “Saya bersyukur malam ini Tuhan kirim teman bicara.”

“Kita saling meneguhkan,” jawab Pak Nusa. “Besok kita mulai lagi sebagai peziarah harapan.”

Penutup: Peziarah Harapan di Kaki Cycloop

Mereka masuk kamar masing-masing. Lampu padam. Sunyi kembali mengambil alih. Namun di dalam hati dua guru itu, api kecil tetap menyala—api harapan yang lahir dari rekoleksi, dari kata-kata, dari persahabatan sederhana.

Dan malam itu, di kaki Gunung Cycloop, dua peziarah harapan akhirnya memejamkan mata. Mereka siap melanjutkan perjalanan rohani yang baru, perjalanan yang kini penuh cahaya.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *