Senandung Lamaholot di Tanah Papua
Ketika Ama Lambert Mengabadikan Kenangan di YouTube Gubuk Belajar Bersama
Awal Sebuah Momen yang Menghidupkan Kenangan
Malam itu, sebuah ruangan kecil di Tanah Papua menyambut anak-anak Lamaholot Flobamora dengan hangat. Lampu di langit-langit memancarkan cahaya lembut dan menemani pertemuan sederhana yang penuh makna. Suasana terasa tenang, namun kerinduan yang sama menggetarkan hati setiap orang yang hadir.
Di tengah ruangan, Pak Kodoong berdiri bersama saudara-saudaranya. Mereka tidak membawa harta. Mereka membawa suara, kenangan, dan rasa syukur. Waktu memang menjauhkan mereka dari tanah asal, tetapi mereka tetap menjaga identitas Lamaholot dalam hidup mereka.
Sementara itu, Ama Heri Dosinaen duduk dengan tenang. Ia tersenyum, lalu memberi tanda kecil kepada semua yang hadir. Seketika, semua memahami maksudnya dan mulai menyanyikan lagu bersama.
Motif Lamaholot mengalir seperti sungai yang menemukan jalan pulang. Nada-nada itu menyentuh hati setiap orang di ruangan itu. Setiap lirik membangkitkan kembali kenangan yang mereka simpan lama dalam ingatan mereka.
Pak Kodoong ikut bernyanyi dan menghubungkan Papua dengan Lamaholot melalui suaranya. Ia menanamkan harapan dalam setiap nada. Ia juga menguatkan akar identitas mereka melalui setiap kata yang mereka nyanyikan bersama.
Pada saat yang sama, Ama Lambert mengangkat kamera dan merekam momen itu. Ia tidak hanya merekam sebuah peristiwa, tetapi juga menjaga kenangan yang berharga. Melalui tindakannya, ia membantu semua orang mengingat kembali siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Video tersebut dapat ditonton di sini:
https://youtu.be/K1kFr7jBPf4
Mereka tidak menyadari bahwa rekaman sederhana itu sedang memulai perjalanan panjangnya sendiri.
Ketika Kenangan Menemukan Penjaganya
Seiring berjalannya waktu, rekaman itu berpindah dari satu tangan ke tangan lain hingga akhirnya sampai kepada Ama Lambert.
Walaupun ia tidak merekam peristiwa tersebut, Ama Lambert memahami nilainya. Saat menonton video itu, ia tidak hanya melihat gambar, tetapi juga merasakan jiwa yang hidup di dalamnya. Kesadaran pun tumbuh bahwa rekaman tersebut menyimpan identitas, kebersamaan, dan cinta yang tidak tergantikan.
Karena keyakinan itu, ia mengambil langkah penting dengan mengunggah video tersebut ke YouTube melalui kanal Gubuk Belajar Bersama. Keputusan ini memberi rumah baru bagi kenangan yang hampir mereka lupakan.
Sejak saat itu, video tersebut tidak lagi tersembunyi. Kehadirannya mulai menjangkau banyak hati dan menghadirkan kembali suara masa lalu. Perlahan, rekaman itu menemukan maknanya, menemukan penontonnya, dan menemukan kehidupannya kembali.
Ketika Nama yang Pergi Kembali Hadir
Suatu hari, sebuah komentar muncul dan membawa gelombang kenangan:
“Teringat ALMARHUM KK YOSEP CHANDRA, yang nanti tanggal 25 April genap 2 tahun kepergiannya. Bahagia di surga KK ku, doakan kami yang masih bersiarah di muka bumi.”
Melalui kata-kata itu, nama KK Yosep Chandra kembali hidup di antara mereka. Walaupun ia telah pergi, suaranya tetap tinggal di dalam video tersebut, seolah masih berdiri dan bernyanyi bersama.
Dengan demikian, rekaman itu tidak hanya menyimpan suara, tetapi juga menjaga kehidupan dalam bentuk kenangan. Saat membaca komentar tersebut, hati Pak Kodoong tergerak. Ia pun menyadari bahwa kenangan tidak pernah benar-benar hilang, karena kenangan selalu menemukan jalan untuk kembali.

Hadiah Ulang Tahun yang Menjadi Abadi
Video itu tidak hanya menghadirkan kerinduan, tetapi juga membawa sukacita. Salah satu komentar menyampaikan rasa syukur yang mendalam:
“Terima kasih, Ama Lambert, karena telah mengabadikan momen indah ini di YouTube Gubuk Belajar Bersama sebagai hadiah ulang tahun untuk Ama Heri Dosinaen. Kami bangga dan bersyukur atas prestasi anak Lamaholot Flobamora di Tanah Papua.”
Pesan itu menegaskan makna yang lebih dalam. Video itu bukan sekadar rekaman biasa, melainkan hadiah yang hidup. Waktu tidak merusaknya, jarak tidak menghapusnya, dan keadaan tidak memisahkannya dari hati mereka. Melalui tindakannya, Ama Lambert membuka dan menjaga pintu kenangan itu agar tetap hidup bagi semua orang.
Kesadaran yang Tumbuh Perlahan
Suatu malam, Pak Kodoong kembali menonton video itu. Ia menatap layar di depannya, dan layar itu berubah menjadi jendela yang membawanya kembali ke masa lalu. Ia melihat wajah-wajah yang dikenalnya, mendengar suara yang pernah menguatkannya, dan merasakan kembali kebersamaan yang pernah mereka bangun bersama.
Keheningan menyelimuti ruangan, tetapi Pak Kodoong tidak merasa sendirian. Ia justru merasakan kehangatan yang mengalir perlahan di dalam hatinya. Sebuah senyum tumbuh di wajahnya, dan pemahaman baru muncul dalam dirinya. Ia menyadari bahwa video itu bukan sekadar rekaman. Video itu menjaga cerita mereka tetap hidup dan menyatukan mereka, meskipun waktu terus berjalan.
Senandung yang Akan Terus Hidup
Baca juga : Peziarah Malam Cycloop Renungan Sunyi di Malam Sentani
Kini, video tersebut tetap hadir di kanal YouTube Gubuk Belajar Bersama sebagai saksi perjalanan anak-anak Lamaholot Flobamora di Tanah Papua.
Bagi sebagian orang, rekaman itu mungkin tampak sederhana. Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya, video tersebut adalah rumah yang menyimpan suara, menjaga cinta, dan merawat kenangan.
Selama masih ada yang menonton dan mendengarkan, senandung itu akan terus hidup. Kisah mereka tidak akan berakhir, karena seseorang telah memilih untuk menjaganya.
Pada akhirnya, Ama Lambert tidak hanya mengunggah sebuah video, tetapi juga menjaga sebuah warisan. Melalui warisan itulah, senandung Lamaholot akan terus bernyanyi, melintasi waktu, melampaui jarak, dan hidup di dalam setiap hati yang mengingatnya.








