Momen Penuh Syukur dan Solidaritas

Syukur dan Solidaritas: Syukuran 81 Tahun Uskup Emeritus Leo Laba Ladjar di Jayapura Jadi Momen Doa dan Penggalangan Dana

Ceritapakkodoong, Jayapura – Minggu, 10 November 2024, suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa di halaman Biara Provinsialt OFM St. Fransiskus Duta Damai Jayapura. Sejak pagi, umat, keluarga, dan para sahabat berdatangan dengan wajah penuh sukacita. Mereka berkumpul untuk merayakan syukuran ulang tahun ke-81 Bapa Uskup Emeritus Leo Laba Ladjar, OFM.

Namun, lebih dari itu, mereka juga datang dengan satu tujuan mulia: menggalang dana bagi para korban bencana Gunung Lewotobi di Larantuka, Flores Timur, NTT. Momen ini menjadi wujud nyata Syukur dan Solidaritas di tengah kehidupan umat.

Dengan demikian, acara ini tidak hanya menjadi perayaan pribadi, tetapi juga berkembang menjadi gerakan kasih yang menyentuh banyak orang.

Awal Acara yang Penuh Makna dan Kepedulian

Acara dimulai tepat pukul 11.00 WIT. Bapak Melkior Weruin, selaku MC, membuka kegiatan dengan penuh semangat. Ia menyampaikan dua tujuan utama kegiatan tersebut. Pertama, umat merayakan pertambahan usia ke-81 Bapa Uskup Emeritus Leo Laba Ladjar. Kedua, umat bersama-sama menunjukkan kepedulian kepada saudara-saudari yang terdampak bencana Gunung Lewotobi.

Selanjutnya, suasana menjadi semakin khidmat ketika para hadirin menyadari bahwa momen ini bukan sekadar perayaan, melainkan juga kesempatan untuk berbagi kasih. Inilah makna Syukur dan Solidaritas yang hidup dalam kebersamaan.

Baca juga : Pace e Bene dan Kakan Dike Arin Sare

Inisiatif Syukur yang Menjadi Gerakan Solidaritas

Kemudian, Ama Anton Amabolen, sebagai inisiator acara, membagikan kisah di balik terselenggaranya kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa awalnya ia merencanakan syukuran untuk mengenang 28 tahun pelayanan Bapa Uskup di Jayapura. Namun, karena berbagai keterbatasan, rencana tersebut sempat tertunda.

Akhirnya, ia dan rekan-rekannya memutuskan untuk melaksanakan syukuran tersebut bertepatan dengan ulang tahun Bapa Uskup pada 4 November 2024. Selain itu, Ama Anton juga mengungkapkan rasa syukur karena Bapa Uskup masih diberi kesehatan hingga usia 81 tahun.

“Berita tentang Gunung Lewotobi sangat menggemparkan kita semua. Namun demikian, meskipun kita memiliki keterbatasan, kita tetap berusaha menggalang dana dengan penuh sukacita. Kita ingin berbagi kasih dengan saudara-saudara kita di Larantuka,” ujarnya.

Semangat ini mencerminkan nilai Syukur dan Solidaritas yang terus bertumbuh di tengah umat.

Ajakan Doa dan Ungkapan Terima Kasih

Kesaksian Solidaritas dari Peserta

Tidak hanya para pemimpin komunitas, para peserta juga menunjukkan keterlibatan aktif. Salah satunya Bapak Paulus Dosi yang turut ambil bagian dalam penggalangan dana.

“Ini luar biasa. Kita berkumpul sebagai ungkapan solidaritas dan kekeluargaan. Kehadiran kita memberi kekuatan bagi saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana,” ungkapnya.

Melalui keterlibatan ini, para peserta menunjukkan bahwa solidaritas tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Inilah bentuk konkret Syukur dan Solidaritas di tengah penderitaan sesama.

👉 Baca selengkapnya di: Momen Penuh Syukur dan Solidaritas

Sambutan Penuh Kerendahan Hati

Kemudian, Bapa Uskup Emeritus Leo Laba Ladjar, OFM, menyampaikan sambutan singkat yang penuh makna. Ia membuka dengan candaan ringan yang mengundang senyum hadirin.

“Ada yang bilang tiup lilin, tapi saya tidak mau. Lilinnya masih menyala dan menerangi,” ujarnya.

Ia juga memohon doa agar tetap sehat dan terus melayani. Selain itu, ia menyampaikan permohonan maaf karena jarang menghadiri kegiatan Flobamora.

“Bukan karena saya tidak mau datang, tetapi karena saya adalah Uskup Jayapura, bukan Uskup NTT,” ungkapnya dengan rendah hati.

Momen Penuh Syukur dan Solidaritas

Perayaan Kebersamaan yang Menguatkan Persaudaraan

Setelah sambutan, panitia mengajak semua hadirin untuk makan bersama. Suasana penuh keakraban terasa saat peserta bercengkerama dan berbagi cerita.

Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan penggalangan dana melalui “dolo-dolo”. Para peserta bernyanyi, menari, bahkan turun ke jalan untuk mengajak orang lain berpartisipasi.

Melalui tindakan ini, mereka menunjukkan bahwa solidaritas membutuhkan keberanian untuk bergerak.

Syukur dan Solidaritas yang Menjadi Tanda Kasih Nyata

Pada akhirnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun. Sebaliknya, kegiatan ini menjadi simbol nyata Syukur dan Solidaritas yang hidup di tengah umat, khususnya komunitas anak rantau NTT di Jayapura.

Lebih dari itu, kegiatan ini mengingatkan pentingnya berbagi kasih di tengah penderitaan sesama. Dengan penuh harapan, setiap bantuan yang terkumpul diharapkan dapat meringankan beban para korban bencana Gunung Lewotobi.

Dengan demikian, Syukur dan Solidaritas tidak hanya menjadi tema, tetapi sungguh menjadi tindakan nyata dalam kehidupan bersama.