Beranda / Opini / “Bisikan di Bawah Terik Mentari & Riuh Pasar Kehidupan”

“Bisikan di Bawah Terik Mentari & Riuh Pasar Kehidupan”

Sebuah Bisikan di Bawah Terik Mentari dan di Riuh Pasar Kehidupan

By Benyamin Marotno, S.Pd.

Bisikan di Lapangan Sekolah: Pelajaran yang Tak Terdengar

🌤️ Pelajaran yang Resmi dari Mikrofon

Pagi itu, di bawah langit biru, kami berdiri di lapangan yang sama. Selain dari suasana yang khidmat, panas mentari terasa menyengat, cahayanya begitu kuat hingga membuat mata sedikit menyipit. Di depan sana, suara pembina upacara terdengar tegas melalui pengeras suara, sehingga menggema di seluruh penjuru sekolah. Ringkasnya, sebuah pesan penting tentang disiplin, karakter, dan membangun akhlak mulia untuk masa depan tersampaikan. Itu adalah pelajaran yang resmi. Pelajaran yang dirancang untuk didengar.

👀 Mengamati Guru di Barisan Belakang

Meskipun demikian, di tengah khidmatnya suasana itu, coba kita alihkan sejenak fokus kita, Sahabat. Ternyata, perhatian kita jatuh pada sosok seorang guru yang berdiri di barisan belakang. Ia tidak memegang mikrofon, melainkan hanya menatap murid-murid dengan sorot mata teduh, kadang kala tersenyum tipis saat melihat barisan yang rapi, dan menegur lembut ketika ada yang bercanda. Di dalam tatapannya tersimpan harapan, kebanggaan, dan doa yang tak terucap.

✋ Tindakan Sunyi yang Mengajarkan Ketulusan

Di samping itu, kita mungkin melihat seorang kakak kelas yang diam-diam merapikan topi adik kelasnya yang miring—sebuah kepedulian kecil yang tak akan pernah diumumkan sebagai prestasi. Oleh karena itu, saat itulah kita sadar: pelajaran yang paling meresap ke dalam jiwa sering kali bukan berasal dari pengeras suara, melainkan justru dari momen-momen sunyi yang penuh makna.

Guru di barisan belakang itu, dengan tatapan lembutnya, baru saja mengajarkan kita tentang ketulusan. Kakak kelas itu, dengan tindakannya yang sederhana, mengajarkan kita tentang kepedulian. Mereka adalah “guru tak terduga” di tengah upacara yang khidmat. Singkatnya, momen itu menyadarkan kita bahwa ruang kelas kehidupan ini tak pernah libur—bahkan hadir di tengah lapangan yang terik sekalipun.

  1. Cermin di Riuh Pasar: Integritas sebagai Mata Uang Tertinggi

  2. 🏙️ Bergeser ke Panggung Pasar Kehidupan

Pelajaran itu tidak berhenti saat barisan dibubarkan. Sehubungan dengan itu, mari kita bergeser sejenak, Sahabat, dari lapangan yang teratur menuju panggung lain yang lebih riuh: pasar di jam sibuk.

🎵 Keramaian Tanpa Amanat Pembina

Di sini, tidak ada amanat pembina. Akan tetapi, yang terdengar hanyalah suara pedagang, tawar-menawar yang sengit, dan aroma keringat berpadu dengan wangi rempah serta sayur layu yang belum diangkat petugas kebersihan.

👑 Baca juga:Strategi Pergantian Peran Tingkatkan Motivasi Siswa SD

👩‍🌾 Ibu Pedagang sebagai Guru Integritas

Di tengah keramaian itu, secara kebetulan mata kita tertuju pada seorang ibu paruh baya di lapak sayurnya. Seorang pembeli—ibu muda yang terburu-buru—membayar dan pergi. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Tak lama kemudian, sang pedagang menghitung uangnya, wajahnya berubah, lalu ia berlari kecil sambil memanggil: “Nak, uangnya kelebihan tadi, ini kembaliannya!”

Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada kamera yang merekam. Walaupun demikian, di tengah tekanan ekonomi dan hiruk-pikuk pasar, ia baru saja memberikan kuliah paling berharga tentang integritas.

💭 Filsafat Kejujuran dari Stoikisme Kuno

Inilah titik temu: filsafat Stoikisme kuno bertemu dengan kearifan lokal. Para filsuf Stoik seperti Marcus Aurelius mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada hal-hal eksternal seperti uang atau pujian, melainkan pada kebajikan internal yang kita kendalikan: kejujuran, keadilan, dan keberanian.

🌟 Karakter: Mata Uang Tertinggi

bu di pasar itu adalah seorang Stoik sejati. Ia memilih ketenangan jiwa dan kejujuran (amanah) daripada keuntungan sesaat. Dengan demikian, ia menjadi “profesor” di universitas kehidupan, mengajarkan bahwa karakter adalah mata uang tertinggi. Pelajari filosofi Stoik dan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

III. Refleksi Universal: Murid yang Tak Pernah Lulus

🔍 Setiap Jiwa Adalah Cermin Nilai

Sejalan dengan itu, dari guru yang tulus di lapangan upacara hingga pedagang yang jujur di pasar, kita melihat sebuah kebenaran universal: Setiap jiwa, dalam setiap profesi, adalah cermin. Setiap tindakan memantulkan nilai yang kita anut—dengan kata lain, menjadi pelajaran bagi siapa pun yang melihatnya.

🌱 Undangan Menjadi Murid Abadi

Lalu, apa muara dari semua kesadaran ini? Jika setiap kita adalah guru dan cermin bagi yang lain, apakah itu menjadi beban yang berat? Justru sebaliknya, kesadaran ini bukanlah beban untuk menjadi “guru yang sempurna,” melainkan undangan penuh kasih untuk menjadi “murid yang tak pernah lulus.”

Seperti kata Socrates: “Satu-satunya hal yang aku tahu adalah bahwa aku tidak tahu apa-apa.”

🌬️ Kerendahan Hati dan Perbaikan Diri

Akibatnya, itulah titik awal segala kearifan—kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita selalu punya ruang untuk belajar, tumbuh, dan memperbaiki diri. Ketika kita menerima peran sebagai murid abadi, kita tidak lagi sibuk untuk “terlihat baik,” namun justru berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi baik. Perbaikan diri bukan lagi kewajiban tahunan, tetapi menjadi napas harian.

🫁 Belajar dari Setiap Napas Kehidupan

Sebagai contoh, kita belajar sabar dari kemacetan, belajar ikhlas dari rencana yang gagal, dan belajar bersyukur dari secangkir teh di pagi hari.

  1. Menjadi Lilin yang Menyala: Cahaya yang Menyebar

  2. 🔆 Mandat Menjadi Lilin yang Menyala

Perintah untuk terus menambah ilmu adalah mandat untuk menjadi murid seumur hidup. Sebab itu, hanya dengan terus mengisi gelas diri, kita bisa memancarkan cahaya bagi sekitar—bukan karena kita ingin mengajar, melainkan karena sebuah lilin yang menyala akan menerangi sekelilingnya secara alami.

🕯️ Penutup: Jalani Peran dengan Kesadaran Penuh

Oleh karena itu, Sahabat… Tidak peduli apa profesi kita hari ini—apakah di depan kelas, di balik meja kasir, di ruang rapat, atau di dapur rumah—kita semua adalah bagian dari rantai pengajaran agung ini. Pada akhirnya, mari jalani peran ini dengan kesadaran penuh. Bukan dengan kesombongan seorang guru, melainkan dengan kerendahan hati seorang murid yang tak pernah berhenti belajar.

Baca juga : Gambar Kenangan Ibu Lestari, Pemimpin Bijaksana

💖 Refleksi Akhir: Setiap Tindakan Adalah Pelajaran

Mari kita refleksi, Sahabat. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan hari ini, sekecil apa pun, bisa menjadi pelajaran besar bagi orang lain. Intinya, dalam perjalanan hidup ini, setiap jiwa adalah guru, dan setiap pengalaman adalah kelas. Berbagi adalah indah. Dengan demikian, mari terus menyalakan cahaya, satu tindakan tulus pada satu waktu.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *