Kehangatan Epu Orin: Keluarga Lamaholot Melepas Pastor Paul Wolor dengan Doa dan Lagu Kerinduan
Jayapura, 1 Maret 2026 — Suasana sederhana namun penuh makna mengisi pertemuan keluarga Lamaholot dalam momen Epu Orin. Pertemuan kekeluargaan ini menghadirkan doa, dukungan, dan ungkapan kasih persaudaraan. Meski tidak banyak yang hadir, setiap pribadi datang dengan perasaan yang sama: mengantar Pastor Paul Wolor menuju tempat pelayanan yang baru dengan cinta, ketulusan, dan harapan.
Pondok Condios Menjadi Saksi Kebersamaan
Sejak awal pertemuan, keluarga Lamaholot langsung merasakan suasana hangat di Pondok Condios, rumah khusus bagi para imam Projo Keuskupan Jayapura. Tempat ini tidak hanya menjadi ruang kebersamaan, tetapi juga menjadi tempat istirahat bagi para imam yang melayani umat.
Namun demikian, umat masih perlu memberi perhatian dan sentuhan kasih agar lingkungan pondok terlihat lebih segar, tertata, aman, dan nyaman. Dengan kepedulian bersama, pondok ini dapat menjadi tempat yang semakin layak bagi para imam untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.
Di tempat sederhana ini, keluarga Lamaholot berkumpul dengan penuh kerendahan hati. Mereka tidak membawa kemewahan ataupun bingkisan. Sebaliknya, mereka membawa doa, perhatian, dan kasih persaudaraan yang tulus.
Pembukaan yang Menguatkan Hati
MC Ama Melky Weruin membuka pertemuan dengan tenang dan penuh keyakinan. Ia menegaskan bahwa jumlah kehadiran tidak menentukan besarnya dukungan.
“Tidak terlalu banyak bukan berarti kami tidak mendukung pater. Kami yang datang hari ini membawa perasaan yang sama seperti saat merayakan syukur imamat 25 tahun. Kami datang untuk mendukung pater dalam tugas pelayanan di tempat yang baru,” ungkapnya.
Kata-kata tersebut langsung menguatkan kebersamaan. Ia juga mengingatkan semua yang hadir bahwa ketulusan hati menjadi dasar utama dukungan sejati.
Tonton video selengkapnya di YouTube
Pesan Orang Tua dan Penasihat Keluarga Lamaholot
Selanjutnya, Ama Stanis Dosinaen, sebagai orang tua dan penasihat keluarga Lamaholot, menyampaikan pesan mewakili anggota keluarga yang tidak sempat hadir. Ia menegaskan bahwa Pastor Paul tetap menjadi bagian dari keluarga besar Lamaholot.
“Pastor merupakan bagian dari persaudaraan Lamaholot. Kami datang mewakili keluarga yang tidak sempat hadir. Kami tidak membawa apa-apa. Kami hanya berdoa agar pater tetap sehat, tetap kuat dalam imamat, dan selalu diberkati dalam pelayanan,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa keluarga Lamaholot hadir untuk mengantar dan memberikan dukungan moral dengan penuh kasih.
Perwakilan keluarga Lembata, Ama Duran, juga menyampaikan pesan yang sederhana namun bermakna.
“Kami datang tidak banyak, tetapi kami selalu mendoakan pater,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa doa menjadi kekuatan utama dalam persaudaraan.
Ketua Lamaholot: Kehadiran Kecil, Dukungan Besar
Ketua Lamaholot, Ama Anton Bolen, kemudian menyampaikan pesan yang menyentuh hati seluruh peserta yang hadir. Ia mengajak semua untuk melihat makna yang lebih dalam dari pertemuan tersebut.
“Kami datang sedikit, tetapi kami mewakili seluruh keluarga Lamaholot. Yang kelihatan memang sedikit, tetapi yang tidak kelihatan itu banyak. Kami jarang mengunjungi pastor, namun pastor selalu menjadi bagian dari Lamaholot. Kami tidak membawa apa-apa, tetapi hati kami selalu bersama pastor.”
Melalui pernyataan tersebut, ia menegaskan bahwa persaudaraan Lamaholot tetap hidup dan terus terjaga, meskipun tidak selalu diwujudkan dalam pertemuan yang sering.
Baca juga: Momen Penuh Syukur dan Solidaritas
Ungkapan Syukur atas 15 Tahun Kebersamaan
Menanggapi semua ungkapan tersebut, Pastor Paul Wolor menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Ia mengenang perjalanan kebersamaan selama 15 tahun bersama keluarga Lamaholot dan umat di Keuskupan Jayapura.
Dengan penuh haru, ia mengucapkan terima kasih atas dukungan, perhatian, dan kebersamaan yang terus mengalir. Ia juga secara khusus mengingat perayaan syukur 25 tahun imamat yang telah dirayakan bersama keluarga Lamaholot.
Selain itu, ia menyampaikan pesan penting kepada generasi muda, khususnya anak-anak seminari.
“Anak-anak seminari tidak harus menjadi imam. Namun, mereka harus menjadi anak yang baik. Paling tidak, mereka dapat menjadi pengurus KBG dan melayani umat dengan setia.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki panggilan untuk melayani sesuai dengan perannya masing-masing.
Lagu Doan Doan Kae Menghidupkan Kenangan Kampung Halaman
Sebagai bagian dari kebersamaan, keluarga Lamaholot kemudian menyanyikan lagu tradisional penuh makna, Doan Doan Kae. Suara nyanyian menggema lembut di Pondok Condios, menghadirkan suasana yang penuh kenangan.
Doan doan kae
Ole nete nete doan kae
Tapin balik balik jadi hala
Ole nete nete doan kae
Nyanyian dilanjutkan dengan bait berikut:
Tani mete tani
Bayan tena tena mete tani
Tena niki niki wai take
Bayan tena mete tani
Lagu tersebut tidak sekadar dinyanyikan. Sebaliknya, lagu itu membangkitkan kembali kenangan masa kecil, menghadirkan suasana kampung halaman, dan mengobati kerinduan yang tersimpan lama. Banyak peserta larut dalam suasana haru dan kebersamaan yang mendalam.
Doa Penutup Mengantar Perutusan Baru
Sebagai penutup, Ama Petrus Sadi Hurin memimpin doa bersama. Ia memohon agar Tuhan senantiasa melindungi Pastor Paul Wolor dalam tugas pelayanan di tempat yang baru di Nagi Tanah.
Selain itu, ia juga mendoakan agar Pastor Paul tetap setia dalam panggilan imamat, selalu diberi kesehatan, kekuatan, dan sukacita dalam melayani umat.

Persaudaraan yang Tetap Hidup dan Menguatkan
Pertemuan Epu Orin hari itu berlangsung dalam kesederhanaan, namun menghadirkan makna yang mendalam. Kebersamaan tersebut menunjukkan bahwa persaudaraan Lamaholot tetap hidup, tetap kuat, dan terus mendukung setiap anggotanya.
Kini, Pastor Paul Wolor melangkah menuju tempat pelayanan yang baru. Namun demikian, doa, cinta, dan dukungan keluarga Lamaholot akan selalu menyertai setiap langkah pengabdiannya.









