Gantung Periuk & Rindu Lebaran

Gantung Periuk & Rindu Lebaran

Gantung periuk, kisah Lebaran pertama saya dimulai bukan dari rumah sendiri, melainkan dari bunyi masjid yang perlahan-lahan, kemudian tanpa saya sadari, mengajari hati untuk mulai merasa.

Masa Kecil yang “Biasa Saja”

Sejujurnya, saat kecil, Lebaran bagi saya… ya biasa saja. Bahkan, tidak ada ketupat, tidak ada opor, apalagi tradisi keliling rumah. Sebaliknya, saya tumbuh dalam komunitas Katolik sejak SD hingga SMP, sehingga, dengan demikian, suasana Lebaran nyaris tak pernah benar-benar hadir dalam keseharian saya.

Namun demikian, seiring waktu—dan ini yang menarik—ketika saya melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, suasana itu perlahan mulai menyelinap. Awalnya memang samar, tetapi kemudian semakin terasa. Terlebih lagi, sejak saat itu saya mulai memiliki teman-teman yang beragama Islam.

Di Waiwerang, Adonara, Flores Timur hingga Maumere, perlahan saya mulai menyadari adanya nuansa yang berbeda. Pada pagi hari, khususnya saat subuh, suasana terasa lebih hidup. Selain itu, suara dari masjid mulai akrab di telinga. Bahkan, entah mengapa, suara tersebut terdengar seperti panggilan yang tidak hanya ditujukan untuk mereka, melainkan juga untuk siapa saja yang mau berhenti sejenak dan mendengar.

Meskipun demikian, pada fase ini saya masih menjadi semacam “penonton setia”. Di satu sisi, saya menikmati suasananya. Akan tetapi, di sisi lain, saya belum benar-benar terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, tradisi silaturahmi belum saya jalani. Begitu pula dengan mencicipi ketupat—hal itu masih sebatas bayangan.

BACA JUGA : Mengayuh Sepeda Tua Demi Gelar Sarjana

 Makassar: Saat Periuk “Digantung”

Kemudian, cerita mulai terasa lebih hidup ketika saya pindah ke Ujung Pandang—atau yang sekarang lebih dikenal dengan Makassar.

Di kota ini, segala sesuatu berubah dengan cukup signifikan. Mengingat mayoritas penduduk beragama Islam, maka secara otomatis ritme kehidupan sehari-hari pun ikut menyesuaikan. Bahkan, tanpa saya sadari, saya mulai mengatur aktivitas berdasarkan waktu salat.

Misalnya, subuh menjadi semacam alarm alami untuk memulai hari. Selanjutnya, dzuhur menjadi penanda waktu untuk beristirahat. Lalu, maghrib seolah menjadi isyarat bahwa hari telah selesai dan saatnya kembali pulang.

Namun demikian, dari semua perubahan itu, yang paling membekas tentu saja adalah suasana Lebaran.

Ada satu istilah legendaris di kalangan anak kos: “gantung periuk.” Artinya? Sederhana tapi jenius—tidak usah masak, karena semua orang akan menyambut tamu dengan makanan melimpah!

Dan benar saja—pagi-pagi sekali, bahkan sebelum orang pulang dari salat Id, saya dan teman-teman sudah “beraksi”. Kami bertamu dari rumah ke rumah. Tanpa malu, tanpa ragu, dan tentu saja… tanpa undangan resmi.

“Read more about it here: https://www.lemon8-app.com/@wilmamarjorie/7356787377324425745?region=id

Di setiap rumah, tikar sudah digelar. Di atasnya? Ketupat, opor, rendang, sambal goreng, kue-kue—semuanya berjejer seperti pameran kuliner dadakan.

Awalnya kami bilang, “cuma sedikit saja.”
Lima menit kemudian? Tambah lagi.
Sepuluh menit kemudian? “Wah, ini enak sekali, boleh lagi ya?”

Dan begitulah seterusnya… sampai kami sendiri lupa sudah makan di rumah ke berapa.

Jayapura: Rindu yang Tak Terjemahkan

Lalu, hidup kembali membawa saya merantau—kali ini ke Jayapura, Papua.

Di sini, suasana kembali berubah. Mayoritas penduduk beragama Kristen. Namun, anehnya, gema masjid saat subuh di hari Lebaran tetap terasa. Tidak seramai di Makassar, memang. Tidak juga sehangat tradisi “gantung periuk”.

Tetapi justru di sinilah rasa itu menjadi lebih dalam.

Saya tidak lagi rutin bersilaturahmi seperti dulu. Bukan karena tidak punya teman Muslim—justru ada. Hanya saja, entah kenapa, ritmenya berbeda. Lebaran di sini terasa lebih… sunyi.

Namun, setiap subuh di hari itu, ketika suara takbir atau lantunan doa terdengar dari kejauhan, hati saya tiba-tiba ikut bergetar.

Lucunya, saya bahkan tidak selalu mengerti arti dari lantunan itu. Tetapi melodinya—nah, itu yang berbicara.

Ia membawa ingatan.
Ia memanggil kenangan.
Ia mengantar rindu… pulang.

Gantung Periuk & Rindu Lebaran

Penutup: Lebaran yang Mengajarkan

Pada akhirnya, saya menyadari satu hal: Lebaran bukan hanya tentang agama, tetapi juga tentang rasa—tentang kebersamaan, tentang berbagi, dan tentang bagaimana kita belajar memahami satu sama lain.

Dari yang awalnya hanya “penonton”, kemudian jadi “tamu aktif”, hingga akhirnya menjadi “perindu dalam diam”—perjalanan ini terasa lengkap dengan caranya sendiri.

Dan untuk saudara-saudari yang merayakan, dari hati yang sederhana ini, saya ingin berkata:

Selamat Hari Raya. Semoga damai selalu tinggal, bukan hanya di hari ini, tetapi juga di setiap langkah kehidupan kita.