Beranda / Cerpen / Genggaman Terakhir di Kaki Cycloop

Genggaman Terakhir di Kaki Cycloop

Genggaman Terakhir di Kaki Cycloop

Rerumputan Pagi di Sentani: Awal yang Selalu Baru

Setiap pagi di kota Sentani terasa segar, seolah-olah gunung, danau, dan angin sepakat memperbarui dunia. Di balik embusan udara yang jernih itu, sebuah sekolah berlantai dua berdiri tenang, memandang jalanan kota dengan bijaksana. Sementara itu, dindingnya yang mengelupas tampak seperti kulit seorang kakek tua yang menua dengan bangga, dan jendelanya yang ringkih tetap membuka diri kepada cahaya, seakan ingin menegaskan bahwa pendidikan selalu punya ruang bagi terang.

Kemudian, tak lama setelah pagi benar-benar merekah, langkah Pak Dola menyentuh lantai keramik yang dingin. Pada saat itu pula, bangunan sekolah seperti menghela napas panjang. Seakan mengenali irama langkahnya, sekolah itu berbisik lembut:

“Kau kembali, Guru tua. Mari kita tuntun hari ini dengan sabar.”

Sejak saat itu dan seterusnya, bisikan tersebut selalu terdengar, bukan melalui telinga, tetapi dari dalam jiwa. Karena itulah, Pak Dola selalu datang lebih awal daripada matahari, membiarkan kesunyian pagi memeluknya sebelum gaduhnya aktivitas sekolah mengambil alih.

Seiring waktu berlalu, ia memahami bahwa perjalanan sebagai guru bukanlah garis lurus menuju akhir. Sebaliknya, perjalanan itu menyerupai lingkaran luas: setiap hari kembali pada pola yang sama, namun setiap kali hadir dengan nuansa yang berbeda. Oleh sebab itu, bagi Pak Dola, setiap hari tidak pernah menjadi pengulangan semata.

Sebaliknya, setiap pagi adalah awal baru—awal yang terus menuntunnya untuk bertahan, belajar, dan memberi tanpa henti.

Baca juga : Peziarah Malam Cycloop | Renungan Sunyi di Malam Sentani

Dua Puluh Tiga Tahun dalam Pelukan Pendidikan

Jejak yang Mengalir, Cahaya yang Tertinggal

Selama dua puluh tiga tahun, ruang kelas menjadi ladang bagi Pak Dola menabur harapan. Dari waktu ke waktu, murid datang dan pergi seperti ombak yang menyentuh pantai, membawa sebagian cahaya dari dirinya—kesabaran, disiplin, dan kasih. Pada saat yang sama, mereka meninggalkan jejak kecil dalam hati seorang guru, jejak yang tak pernah benar-benar hilang.

Seiring hari-hari berlalu, Pak Dola terus menggandeng buku pelajaran yang sama. Ia menelusuri sampulnya yang lusuh dan halaman yang menguning, namun tetap setia menggunakannya, seolah sedang menjaga sahabat tua yang selalu menemaninya apa pun musimnya. Setiap kali ia membalik halaman, ingatan pun bermekaran: ia mengingat evaluasi kelas yang penuh renungan, menghidupkan kembali diskusi hangat yang berputar seperti angin siang, dan menangkap kembali kilau semangat belajar yang pernah bersinar di mata para muridnya.

Namun dalam relung hatinya yang paling sunyi, Pak Dola memelihara sebuah rasa yang sulit ia ungkapkan. Ia telah mengajar begitu lama, tetapi perjalanan panjang itu tidak pernah memberinya rasa selesai. Ia terus melangkah, terus berjalan, namun tak pernah merasa tiba. Jalan hidupnya memanjang tanpa ujung, tetapi ia tetap maju—
dalam diam,
dalam keluh,
dalam syukur.

Pelan-pelan, ia mulai menyadari bahwa dirinya tidak hanya mengajar; ia juga belajar. Setiap hari, kehidupan memberikan pelajaran baru yang membuatnya kembali menjadi murid. Hari demi hari bergerak tanpa suara, membawa rutinitas yang berubah perlahan seperti ombak kecil di tepi danau. Bulan berganti bulan, dan waktu berlari cepat di atas relnya sendiri tanpa pernah menoleh. Tidak lama kemudian, tahun-tahun pun melompat lincah—riang seperti anak-anak yang berlarian di lapangan sekolah saat bel istirahat memanggil mereka.

Dan pada akhirnya, di tengah arus perubahan yang tak pernah berhenti mengalir, sebuah pertanyaan tumbuh—benih kecil yang diam-diam menembus tanah dan mengangkat wajahnya kepada cahaya untuk pertama kalinya:

“Apa yang akan aku tinggalkan setelah semua ini?”

Malam Panjang di Kaki Gunung Cycloop

Sunyi yang Mengantar Renungan

Malam perlahan turun, menutupi kaki Gunung Cycloop dengan selimut gelapnya. Siluet gunung itu tetap berdiri megah, seakan merangkul langit Sentani yang mulai kehilangan warna. Sementara itu, di rumah kecil yang dibangun dari sepuluh tahun keringat dan cicilan, Pak Dola duduk seorang diri. Rumah itu tak besar, namun demikian, setiap sudutnya menyimpan kisah: tawa, kelelahan, harapan, dan air mata yang tak pernah sempat ia tunjukkan kepada siapa pun.

Tak lama kemudian, angin malam mengetuk jendela dengan lembut, seolah sedang mencari perhatian. Dingin pun ikut merayap melalui celah pintu, mengusap kulitnya perlahan. Meski begitu, Pak Dola tahu bahwa dingin itu hanyalah tamu kecil—tidak sebanding dengan liku hidup yang telah ia lewati selama puluhan tahun.

Di sisi lain, Pada meja kayu yang sudah renta, lampu redup bergetar seperti lilin yang mempertahankan nyala terakhirnya. Dalam cahaya yang hampir padam itu, Pak Dola memegang buku pelajaran lamanya dan menatapnya lama sekali, seolah mencoba membaca ulang seluruh perjalanan hidup yang pernah ia jalani bersama buku itu.

“Sudah waktunya kau menulis kami ulang.”

Pada saat itulah, sesuatu yang aneh menyusup ke dalam hatinya. Ada getaran kecil, namun cukup kuat untuk membuatnya terdiam. Perlahan namun pasti, sebuah pertanyaan muncul—kecil, tajam, dan menembus seperti jarum yang membelah kain:

“Bisakah saya menulis buku pelajaran sendiri?”

Pertanyaan itu tidak langsung pergi. Sebaliknya, ia melayang-layang di udara, menggantung seperti kabut yang terus naik turun mengikuti arah angin malam. Dan seiring waktu berjalan, pertanyaan itu kian mengisi ruang sunyi yang ada di dalam dirinya.

Bisikan Laksana Malaikat

Ketika Langit Menyapa

Malam masih hening ketika suara lembut muncul. Halus, jernih, memenuhi kamar seperti embun menyelimuti daun. Datang laksana Malaikat Gabriel membawa kabar baik, suara itu berkata:
“Pak Dola, jangan takut… teruskan cita-citamu. Kamu pasti bisa.”

Pak Dola tersentak. Napasnya memburu. “Siapa itu?” tanyanya panik. Namun malam tetap tenang—tidak ada pintu berderit, langkah mendekat, atau bayangan di dinding. Hanya detak jam yang melanjutkan hitungannya dengan sabar.

Beberapa detik panjang berlalu seperti menit, kemudian ia tersenyum—senyum yang menggigil antara takut, terharu, dan pasrah.
“Mungkin… ini restu dari Pemilik semesta,” gumamnya.

Malam itu, ia tidur dengan pikiran yang berputar seperti roda kecil menemukan jalur baru.

Matahari Pertama Setelah Bisikan

Awal Baru Meski Dunia Tetap Sama

Keesokan paginya, matahari naik dari balik lereng Cycloop, merayap perlahan seperti perut ular melata di tanah. Suara ayam, deru kendaraan, dan aroma pagi menyapa dunia seperti biasa. Namun bagi Pak Dola, semuanya terasa berbeda.

Sementara itu, motor tua menunggu di teras, seakan memanggilnya untuk berangkat. Mesinnya sering batuk-batuk seperti penderita bronkitis, tetapi motor itu tetap setia menemani setiap perjalanan. Begitu ia memutar kunci, mesin langsung bergetar, seolah berkata:
“Ayo, kita jalan lagi, Pak. Masih ada yang harus kau lakukan.”

Ia mengangguk pelan. Sesaat kemudian, di sekolah, rutinitas berjalan seperti biasa: doa pagi, persiapan KBM, dan senyum untuk murid. Meskipun terlihat normal, di dalam hati Pak Dola, ia adalah peziarah harapan yang menabur kebaikan, meski tanah keras dan hujan jarang datang.

Seiring waktu, hari-hari berlalu seperti angin mengetuk jendela. Rutinitas membentuk lingkaran, namun perlahan sebuah benih mulai menumbuhkan akar di hatinya.

Kabar yang Membuka Pintu Lama

Saat Garis Takdir Bergeser

Akhir tahun pelajaran tiba, ketika sekolah mulai mereda seperti senja menutup hari. Tiba-tiba, sebuah kabar kecil datang ke telinganya:
“Pak, tahun depan buku pelajaran direvisi besar-besaran,” ujar rekan guru sambil merapikan map.

Kalimat sederhana itu seperti membuka pintu tua yang lama tertutup. Perasaan tenang beriak, seakan angin baru mengetuk jendela pikirannya. Dalam perjalanan pulang, pikirannya berdesakan seperti anak-anak yang saling dorong menuju kantin sekolah. Semakin dekat ke rumah, semakin riuh suara-suara dalam benaknya.

Setibanya di rumah, ia menarik napas panjang dan berkata pada diri sendiri, seolah memberi amanat yang selama ini disimpan:
“Aku harus menulis buku ajar,” bisiknya pada diri sendiri, seolah memberi amanat yang telah lama ia simpan. Mungkin inilah hadiah terakhir sebelum ia pamit dari dunia yang telah menua bersamanya. Sebuah jejak kecil yang ia harapkan tetap tinggal setelah langkahnya berhenti.

Malam-Malam Panjang Bersama Lembaran Kosong

Menulis, Menghapus, Menulis Lagi

Malam-malam berikutnya berubah menjadi medan tempur. Setiap kali duduk di depan meja kerjanya, Pak Dola langsung menggerakkan jemarinya di atas papan ketik. Ia mengetik paragraf demi paragraf dengan ritme yang tak selalu stabil. Kadang ia berhenti begitu saja. Kadang ia menghapus satu bab penuh tanpa ragu. Kadang ia menatap satu kalimat selama sepuluh menit, berharap kata-kata itu menemukan bentuk terbaiknya.

Suatu malam, sebuah pesan WhatsApp dari editor masuk dan memecah keheningan. Editor menjelaskan bahwa ia sudah memperbarui bab dua dan mengirim file revisinya. Mendengar itu, Pak Dola langsung membuka berkas tersebut. Ia membaca tiap baris, menilai bagian-bagian yang terasa janggal, lalu memutuskan untuk meminta revisi ulang.

Tak lama kemudian, editor membalas, menanyakan bagian mana yang perlu diperbaiki. Pak Dola menjelaskan secara rinci: penjelasan kosakata masih membingungkan, dan ilustrasi pada Unit 3 tidak relevan. Ia meminta editor memperbaiki keduanya segera. Editor menyetujuinya, berjanji akan menyelesaikan revisi, dan menegaskan bahwa ia akan mengirim versi terbaru melalui WhatsApp secepat mungkin. Setelah itu, Pak Dola mengakhiri percakapan dengan ucapan terima kasih dan kembali menunggu kiriman berikutnya.

Namun, malam tidak selalu ramah. Kesalahan demi kesalahan datang menyerbu, seperti gelombang yang tak henti-hentinya menghantam batu karang. Pada satu titik, Pak Dola menutup laptopnya, meremas rambut, dan berdesah,
“Sudah… mungkin ini bukan jalanku.”

Namun suara itu kembali bergema:
“Jangan takut, Pak Dola. Kamu pasti bisa.”

Suara itu menjadi kompas yang menuntunnya melanjutkan.

Ketika Buku Itu Lahir
Kunjungi tautan ini:
Yes, I Can Speak English Grade 5

Buah dari Kelelahan dan Harapan

Setelah berbulan-bulan bekerja keras, buku itu akhirnya lahir. Suatu pagi, sebuah paket sederhana menunggu di depan pintu. Tangannya bergetar saat membuka. Di dalamnya, tumpukan buku pelajaran yang ia tulis sendiri.

Ia mengambil satu, menatapnya seakan memandang anaknya sendiri yang lahir dari perjuangan panjang. Genggaman terasa ringan, namun maknanya berat: berat oleh perjalanan, pengalaman, dan cinta sebagai guru.

“Akhirnya…” bisiknya. Dalam imajinasi hatinya, buku itu seakan berkata:
“Aku lahir dari peluhmu. Terima kasih telah menuliskanku.”

Harapan Terakhir di Kaki Gunung Cycloop

Penutup yang Ingin Ia Genggam Sampai Akhir

Kini, Pak Dola hanya memiliki satu harapan: buku itu menemani satu tahun terakhir masa tugasnya. Ia ingin mengajar murid terakhir dengan buku yang ditulis dengan cinta dan luka. Ia ingin menutup perjalanan panjangnya dengan warisan yang tetap tinggal.

Sore itu, angin di kaki Gunung Cycloop bertiup lembut, seakan menepuk bahunya dan berbisik:
“Harapanmu akan dikabulkan.”

Di bawah langit jingga Sentani, Pak Dola menatap bukunya sekali lagi. Di genggaman itulah seluruh perjalanan hidupnya menemukan rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *