Kursi di Atas Meja dan Sebuah Pertanyaan Besar di Kelas
Catatan kecil dari sebuah pagi di sekolah
Sebuah Pagi yang Biasa
Pagi itu langit tampak mendung. Awan tipis menggantung di atas halaman sekolah, sementara siswa satu per satu memasuki ruang kelas mereka. Seperti biasa, sebelum guru memulai pelajaran, sekolah mengadakan program literasi pagi selama lima belas menit. Karena itu, para siswa memasuki kelas lebih awal.
Saya menaiki tangga menuju ruang kelas. Dari kejauhan, saya mendengar suara anak-anak. Beberapa siswa tertawa, beberapa memanggil nama temannya, dan beberapa berbicara cukup keras dari dalam kelas. Awalnya saya berpikir mereka sedang membaca atau berdiskusi ringan. Namun ketika saya membuka pintu kelas, pemandangan di dalam ruangan membuat saya terdiam sejenak.
Kelas yang Belum Siap
Kelas masih berantakan. Siswa menumpuk bangku mereka di atas meja, mereka belum menata meja-meja dengan rapi, bahkan guru menempatkan kursinya di atas meja di bagian depan kelas.
Beberapa siswa tampak sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Sebagian memang mulai menurunkan bangku dari atas meja, tetapi tidak semua melakukannya dengan serius. Di barisan belakang, dua siswa saling melempar kertas yang dilipat menjadi bola kecil. Setiap lemparan yang mengenai temannya langsung disambut gelak tawa. Sementara itu, di lorong kelas, beberapa siswa berdiri sambil bercakap-cakap tentang permainan yang mereka lakukan saat istirahat kemarin. Percakapan mereka begitu seru sehingga tampaknya tidak ada yang memperhatikan keadaan kelas.
Pelajaran Dimulai, Kursi Tetap di Sana
Bel pelajaran akhirnya berbunyi. Beberapa siswa mulai duduk dan membuka buku, namun suasana kelas belum sepenuhnya fokus. Di sela-sela kegiatan belajar, terdengar bisikan kecil antar teman, dan sesekali muncul tawa dari barisan belakang. Di sudut kelas, seorang siswa menggambar sesuatu di pinggir bukunya, sementara dua siswa lain tampak saling memperlihatkan gambar sambil tertawa pelan.
Sesekali saya melirik ke arah meja guru, dan kursi itu masih berada di atas meja. Waktu terus berjalan. Satu jam berlalu, kemudian hampir dua jam, namun tidak seorang pun bergerak untuk menurunkannya, padahal di dalam kelas ada tiga puluh siswa.
Menahan Diri dan Aktivitas Tugas
Setelah menenangkan diri, saya mulai memanggil siswa satu per satu untuk membacakan hasil tugas mereka: menggunting dan menempel gambar pada bagian-bagian tubuh yang sesuai, lalu menjelaskannya. Misalnya, “We use our eyes to read a book, watch TV, and we wear glasses to protect our sight.”
BACA JUGA : Ruang Rapat yang Takut pada Mimpi
Sayangnya, hampir semua siswa belum mengerjakan tugas itu, padahal saya sudah memberikannya sehari sebelumnya. Akhirnya, hanya dua siswa yang maju dan membaca hasil pekerjaan mereka.
Karena sebagian besar belum paham, saya mencoba menjelaskan ulang materi tentang bagian-bagian tubuh dan fungsinya. Namun sebagian besar siswa sama sekali tidak memperhatikan, malah bercerita dengan teman mereka. Saya menarik napas, menahan rasa kecewa, dan tetap mencoba untuk sabar.
Satu Anak yang Peka
Menjelang akhir pelajaran, ketika sebagian siswa mulai merapikan buku, seorang siswa perempuan berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju depan kelas dan melihat kursi yang masih berada di atas meja guru. Tanpa banyak bicara, ia memegang kursi itu dan menurunkannya ke lantai, lalu menatanya kembali di tempat yang seharusnya. Sikapnya sederhana. Tanpa diminta. Tanpa menunggu perintah.
Pada saat itulah saya memutuskan untuk berbicara.
Sebuah Penjelasan
Saya menjelaskan kepada seluruh siswa bahwa sejak awal saya sengaja meninggalkan kursi itu di atas meja. Tujuannya adalah untuk melihat siapa yang peka dan memiliki inisiatif untuk memperbaiki keadaan tanpa harus diperintah. Kejadian semacam ini bukan pertama kali terjadi. Hampir setiap pagi, siswa menumpuk bangku di atas meja sebelum mereka memulai pelajaran. Karena itulah, pagi itu saya memilih menunggu reaksi mereka.
Pendidikan yang Tidak Tertulis di Buku
Peristiwa sederhana itu membuat saya kembali berpikir. Kadang-kadang siswa tidak melakukan sesuatu bukan karena mereka tidak mampu. Mereka sebenarnya melihat, tetapi mungkin tidak merasa itu tanggung jawab mereka. Sebagian menunggu orang lain, sebagian menunggu teman, atau guru yang memberi perintah. Kepedulian sering kali lahir dari inisiatif kecil yang dilakukan tanpa diminta.
Pendidikan yang Tidak Tertulis di Buku
Pendidikan Tanpa Sekolah (PDF)
Link: https://bit.ly/pendidikan-tanpa-sekolah
Sebuah Pertanyaan untuk Kita Semua
Ketika bel pulang berbunyi, siswa-siswa keluar dari kelas seperti biasa. Suara langkah mereka kembali memenuhi lorong sekolah. Namun pagi itu meninggalkan satu pertanyaan yang masih terngiang di pikiran saya:
Apa yang sebenarnya salah? Apakah mereka tidak melihat kursi itu, atau mereka melihatnya tetapi tidak merasa perlu untuk bertindak?
Barangkali pendidikan tidak selalu hadir melalui buku pelajaran atau soal ujian. Sering kali, pelajaran yang paling penting justru muncul dari peristiwa kecil di dalam kelas. Dan pagi itu, sebuah kursi yang berada di atas meja telah mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menata ruang kelas








