📝 Kisah Pak Dola, Kepala Desa Tewandang, dan Perjuangannya Membawa Air Bersih
🌊 Jalan Berliku Menuju Keberhasilan
Masa Lalu Adalah Pelajaran Berharga untuk Masa Kini. Kalimat itu seakan menggambarkan perjalanan hidup Pak Dola, Kepala Desa Tewandang, seorang pemimpin yang lahir dari kesederhanaan namun tumbuh menjadi sosok kuat seperti karang di tepi laut. Jalan menuju keberhasilan tidak pernah lurus—ada batu, duri, dan genangan air yang menguji setiap langkah. Dari masa lalu yang penuh perjuangan itulah, ia belajar arti
🎶 Senandung Pagi di Balai Desa: Pemimpin yang Merakyat
Pada setiap pagi hari, sebelum matahari sempurna naik, Pak Dola sudah terlihat di balai desa. Dengan demikian, dengan kemeja lusuh dan senyum ramah, ia menyapa siapa pun yang datang. Singkatnya, ia hadir bukan hanya sebagai pemimpin, akan tetapi juga sebagai teman bicara bagi masyarakatnya.
Akan tetapi, tidak banyak orang yang tahu bahwa sesungguhnya di balik ketenangan dan ketegasannya itu, tersimpan cerita panjang yang berliku, sebuah cerita yang pada akhirnya menuntunnya pada satu tugas terberatnya: yaitu memperjuangkan setetes air layak minum.
Baca juga: Pentingnya Persahabatan & Sportivitas Sejak Dini: Refleksi Hari Sumpah Pemuda
🌳 Akar Kuat dan Janji yang Mengubah Nasib
🌾 Langkah dari Tanah yang Sederhana
Pada awalnya, Pak Dola lahir dan besar di Desa Tewandang, tepatnya di tengah keluarga petani yang hidup pas-pasan. Pesan ayahnya, “Jika ingin hidupmu berubah, jangan malas belajar dan bekerja,” selalu ia ingat hingga hari ini. Oleh karena itu, setelah sempat merantau dan bekerja serabutan di kota, maka ia memutuskan untuk kembali ke Tewandang, kemudian membawa pengalaman dan tekad yang matang.
Kepercayaan yang Menjadi Kenyataan
Ketulusannya yang jelas terlihat membuat warga percaya padanya, dan sebagai akibatnya, beberapa tahun kemudian, kepercayaan itu berubah menjadi kenyataan. Dola resmi menjadi Kepala Desa Tewandang. Namun demikian, menjadi kepala desa bukan akhir perjuangan, melainkan justru awal ujian yang sesungguhnya.
🏜️ Desa yang Kehausan: Teriakan Sunyi di Tengah Kemarau
🔥 Ujian Terberat: Desa yang Kehausan
Tepat di awal masa jabatannya, Pak Dola dihadapkan pada satu masalah krusial yang serius mengancam kesehatan dan kehidupan warganya: yakni krisis air bersih. Sebab, selama ini, masyarakat Tewandang harus berjalan berkilo-meter atau bahkan menggunakan air galian yang tidak terjamin kebersihannya. Pak Dola menyadari, bahwa membangun sekolah dan jalan tidak ada artinya terutama jika warganya masih kehausan dan rentan penyakit. Jelaslah bahwa proyek air ini membutuhkan dukungan infrastruktur dan anggaran yang besar, dan oleh sebab itu melampaui kemampuan dana desa.
🎤 Suara Hati dari Desa: Perjalanan ke Kursi Para Pengambil Keputusan
Baca juga: Semangat Adiwiyata SD YPPK Gembala Baik Abepura Menuju Sekolah Hijau 2026
🌱 Memimpin dengan Hati
Banyak pihak yang menyarankan ia bersikap keras, meskipun demikian, Dola memilih jalan yang berbeda: yaitu Ia mencari jalan keluar dengan kerendahan hati dan ketegasan data.
Perjuangan ke Ibukota Provinsi
Oleh karena itu, akhirnya, dengan dukungan penuh dari warganya, ia membawa permasalahan ini langsung ke tingkat provinsi. Sesungguhnya, inilah yang terekam dalam foto ini—momen ketika Pak Dola dan perwakilan Tewandang duduk di hadapan wakil rakyat.
Di ruangan itu, di bawah spanduk Komisi IV DPR Papua… Pak Dola tidak berbicara tentang proyek megah. Sebaliknya, ia hanya bercerita tentang anak-anak desa yang sakit perut karena air kotor, kemudian tentang ibu-ibu yang menghabiskan separuh hari untuk mengangkut air, dan terakhir tentang janji kesejahteraan yang harus diwujudkan.
❤️ Hati yang Menyentuh: Hasil dari Ketulusan Melayani

Kepemimpinan dengan Ketulusan
“Kalau saya memimpin dengan marah, maka yang tumbuh adalah kebencian. Akan tetapi, kalau saya memimpin dengan hati, maka yang tumbuh adalah kepercayaan,” katanya pelan, dan sebagai hasilnya, di ruangan itu, hatinya berhasil menyentuh para pembuat keputusan.
Berkat perjuangan tanpa lelah ini, lambat laun Desa Tewandang mulai berubah. Program air bersih kini tengah diperjuangkan, sehingga mewujudkan harapan yang telah lama terkubur.
⏳ Kenangan Lama: Fondasi Keberanian untuk Melangkah Jauh
Baca juga: Semuanya Akan Berakhir
💡 Pelajaran dari Masa Lalu
Setiap sore, Pak Dola sering duduk di beranda rumahnya yang sederhana. Dari sana, Ia memandangi sawah yang menghijau.
“Kalau dulu saya tidak pernah lapar,” ujarnya suatu kali, “tentu saya tidak akan tahu rasanya orang yang butuh makan. Dan demikian juga, kalau saya tidak pernah berjalan jauh mencari air, maka mungkin saya tidak akan punya keberanian untuk berjalan jauh ke ibukota, hanya untuk memperjuangkan setetes air bersih.”
Dari masa lalunya yang penuh kekurangan, ia belajar untuk menghargai setiap rezeki. Bahkan, dari kegagalan, ia belajar untuk tidak mudah menyerah. Pada intinya, ia membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati tidak diukur dari jabatan, melainkan dari ketulusan hati dalam melayani.
Baca juga: MENJEMPUT HARAPAN DI UJUNG LORONG MARINI









3 Komentar