Beranda / Cerpen / Menggapai Toga yang Tertunda

Menggapai Toga yang Tertunda

Sebuah Perjalanan Panjang dari Penyesalan Menuju Penggenapan

Langkah Pertama di Kota Daeng

Tahun 1993 menjadi tahun yang penuh harapan bagi seorang pemuda sederhana bernama Pak Kodoong. Dengan tekad yang besar dan mimpi yang tinggi, ia meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Ujung Pandang—kota yang dikenal sebagai Kota Daeng. Kota itu bukan sekadar tempat baru baginya, melainkan gerbang menuju masa depan yang selama ini ia impikan.

Dengan pakaian sederhana dan tas berisi beberapa buku, ia mendaftarkan diri di salah satu perguruan tinggi swasta ternama, STKIP YPUP Ujung Pandang. Proses pendaftaran tidak mudah. Ia harus mengikuti berbagai tahapan seleksi, mulai dari pengumpulan berkas, ujian masuk, hingga wawancara. Setiap hari ia menunggu dengan perasaan campur aduk—antara harapan dan kecemasan.

Hingga suatu hari, pengumuman itu akhirnya datang.

Namanya tercantum dalam daftar mahasiswa yang diterima.

Ia terdiam sejenak. Hatinya bergetar. Matanya berkaca-kaca.

Ia berhasil.

Ia kini resmi menjadi mahasiswa STKIP YPUP Ujung Pandang.

Sebagai mahasiswa baru, Pak Kodoong harus mengikuti Penataran P4 selama satu minggu. Setiap pagi ia datang lebih awal. Ia duduk dengan penuh perhatian, mencatat setiap penjelasan, dan mendengarkan setiap arahan. Baginya, semua ini adalah bagian dari perjalanan menuju masa depan.

Setelah satu minggu penataran selesai, tibalah hari pertama perkuliahan yang sesungguhnya.

Hari itu menjadi hari yang tidak akan pernah ia lupakan.

Sosok yang Disangka Dosen

Pagi itu, Pak Kodoong memasuki ruang kuliah dengan perasaan gugup. Ia melihat seorang pria yang tampak lebih tua dari mahasiswa lainnya. Usianya mungkin sekitar 40 tahun. Penampilannya sangat rapi. Bajunya bersih, rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya memancarkan ketenangan.

Pak Kodoong mengira pria itu adalah dosen.

Namun ia heran.

Pria itu tidak berdiri di depan kelas. Ia justru duduk di bangku mahasiswa.

Tak lama kemudian, dosen yang sebenarnya masuk. Pria itu tetap duduk sebagai mahasiswa.

Rasa penasaran Pak Kodoong semakin besar.

Saat perkenalan, pria itu berdiri dan memperkenalkan dirinya.

“Nama saya Frater Thomas Rubak, HHK.”

Ternyata ia adalah seorang frater—seorang biarawan Katolik yang memilih hidup selibat dan mengabdikan hidupnya untuk pelayanan dan pendidikan.

Sejak hari itu, Pak Kodoong mulai memperhatikan Frater Thomas.

Frater Thomas adalah sosok yang luar biasa disiplin. Setiap hari ia datang ke kampus dengan sepeda Federal miliknya. Ia juga mengajar bahasa Inggris di sebuah SMP. Meski sibuk, ia tidak pernah terlambat kuliah.

Pak Kodoong sering melihatnya datang dengan napas sedikit terengah, tetapi wajahnya tetap tenang.

Frater Thomas selalu berpakaian rapi. Suatu hari, ia bahkan menegur teman mereka, Lambert.

“Lambert, tolong kancing bajumu dengan baik. Kita harus menghargai diri kita sendiri,” katanya dengan lembut.

Bukan hanya disiplin, Frater Thomas juga sangat rajin belajar. Ia selalu mencatat, membaca, dan mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.

Hasilnya luar biasa.

Ia sering mendapatkan nilai A.

Bagi Pak Kodoong, Frater Thomas bukan hanya teman kuliah, tetapi juga teladan hidup.

Ia membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk belajar.

Ia membuktikan bahwa kesibukan bukanlah alasan untuk menyerah.

Akhirnya, dengan ketekunan dan disiplin yang luar biasa, Frater Thomas menyelesaikan studinya dan diwisuda sebagai Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris.

Hari itu, Pak Kodoong melihatnya mengenakan toga.

Wajahnya bersinar penuh sukacita.

Namun tanpa ia sadari, momen itu juga menjadi awal dari penyesalan terbesarnya.

Keputusan yang Disesali

Di tengah perjalanan kuliah, Pak Kodoong menghadapi pergumulan pribadi. Ia terjebak dalam persoalan cinta. Emosi dan ego menguasai pikirannya. Ia mengambil keputusan yang tergesa-gesa.

Ia berhenti kuliah.

Keputusan itu terasa benar saat itu.

Namun waktu membuktikan sebaliknya.

Bertahun-tahun kemudian, ia hanya bisa berkata dalam hati:

“Seandainya saya seperti Frater Thomas… mungkin hidup saya berbeda.”

Namun penyesalan selalu datang terlambat.

Ia tidak bisa kembali ke masa lalu.

Ia hanya bisa melanjutkan hidup.

Dengan bekal ijazah SMEA dan sedikit kemampuan bahasa Inggris, ia memutuskan merantau ke Jayapura, Papua.

Ia tidak tahu akan bekerja apa.

Ia hanya tahu satu hal.

Ia harus bertahan hidup.

Kresek Hitam: Kisah BPJS & Realita

Bertahan di Tanah Rantau

Jayapura menyambutnya dengan kenyataan yang keras.

Ia sempat bekerja di sebuah supermarket. Namun pekerjaan itu tidak bertahan lama. Ia merasa tidak cocok.

Ia keluar.

Ia tinggal di rumah temannya, Pak Domi.

Suatu hari Pak Domi berkata kepadanya,

“Kamu sebenarnya beruntung bisa cepat dapat kerja, walaupun hanya di supermarket.”

Pak Kodoong hanya diam.

Ia kemudian mencoba bekerja di bangunan. Ia juga mencoba bekerja di mebel.

Namun semua itu tidak bertahan lama.

Hingga suatu hari, sebuah kabar datang.

Sebuah SD membutuhkan guru bahasa Inggris.

Hatinya berdebar.

Ia memberanikan diri bertemu kepala sekolah, Pak Willem.

Dengan jujur ia berkata,

“Saya pernah kuliah bahasa Inggris, Pak. Walaupun tidak selesai, saya bisa mengajar.”

Pak Willem menatapnya sejenak.

Ia melihat kejujuran.

Ia melihat harapan.

Ia melihat potensi.

Akhirnya, Pak Willem memberinya kesempatan.

Hari itu menjadi titik balik hidupnya.

Guru dengan Kamus Tua

Menjadi guru bukan hal mudah.

Pak Kodoong menghadapi banyak tantangan.

Ia pernah ditegur karena metode mengajarnya.

Ia pernah melakukan kesalahan.

Namun ia tidak menyerah.

Ia hanya memiliki satu kamus bahasa Inggris—kamus yang ia bawa dari Ujung Pandang.

Setiap malam, ia membuka kamus itu.

Ia mencari kata demi kata.

Ia menyusun kalimat demi kalimat.

Tidak ada komputer.

Tidak ada internet.

Tidak ada AI.

Hanya kamus, pena, dan tekad.

Suatu hari, ia melatih seorang siswa untuk lomba pidato bahasa Inggris.

Anak itu menang.

Juara 1.

Bahkan dua kali.

Sejak saat itu, Pak Willem mulai percaya padanya.

Untuk pertama kalinya, Pak Kodoong merasa dirinya berarti.

 Teguran yang Mengubah Hidup

Waktu berlalu.

Pak Willem pindah sekolah.

Kepala sekolah baru datang.

Namanya Sr. Theresita Tania, JMJ.

Suatu hari, ia memanggil Pak Kodoong.

“Saya lihat nama kamu tidak ada gelar,” katanya.

Pak Kodoong terdiam.

Ia berkata jujur.

“Saya pernah kuliah, suster. Tapi tidak selesai.”

Suster menatapnya dengan serius.

“Kalau kamu mau tetap jadi guru bahasa Inggris, kamu harus kuliah. Kalau tidak, kamu jadi TU saja.”

Kata-kata itu menusuk hatinya.

Malam itu, ia berbicara dengan istrinya.

Mereka tidak punya uang.

Bahkan makan saja sulit.

Namun istrinya berkata,

“Kita coba. Tuhan pasti buka jalan.”

Kembali Menjadi Mahasiswa

Tahun 2005, Pak Kodoong kembali menjadi mahasiswa.

Saat duduk di bangku kuliah, ia teringat masa lalu.

Ia teringat Frater Thomas.

Kini, ia menjadi mahasiswa yang lebih tua.

Seperti Frater Thomas dulu.

Ia belajar dengan sungguh-sungguh.

Ia berkata kepada mahasiswa muda,

“Jangan berhenti kuliah. Saya sudah merasakan penyesalannya.”

Ia belajar siang dan malam.

Usahanya tidak sia-sia.

Ia mendapat beasiswa akademik.

Ia terus maju.

Toga yang Akhirnya Terpakai

Hari itu akhirnya tiba.

Hari wisuda.

Pak Kodoong mengenakan toga.

Air matanya jatuh.

Ia lulus dengan predikat cumlaude.

Masuk 10 besar.

Setelah 12 tahun penantian.

Toga yang tertunda akhirnya terpakai.

Ia teringat Frater Thomas.

Ia teringat masa lalunya.

Ia teringat perjuangannya.

Hari itu, ia tidak hanya mendapatkan gelar.

Ia mendapatkan kembali harga dirinya.

Ia membuktikan satu hal:

Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki hidup.

Selama kita masih bernapas, harapan selalu ada.

Dan terkadang, mimpi yang tertunda justru menjadi mimpi yang paling indah saat akhirnya terwujud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *