Pembukaan Rekoleksi: Memasuki Perjalanan sebagai Peziarah Harapan
Rekoleksi Guru dan Pegawai SD YPPK Gembala Baik menjadi pintu masuk bagi para guru dan pegawai SD YPPK Gembala Baik untuk menghayati tema besar rekoleksi tahun ini. Tema tersebut—peziarah harapan yang mewartakan kebaikan dan merajut nama baik lewat setiap kata—mendorong para peserta untuk semakin menyadari peran mereka sebagai pribadi yang menghadirkan kebaikan dalam keseharian. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang reflektif bagi para pendidik untuk merenungkan kembali panggilan mereka sebagai pembawa terang bagi sesama.ma.Sumber rujukan: Peziarah Pengharapan
Sentani, 29–30 November 2025 — kegiatan pembinaan rohani ini semakin meneguhkan komitmen para pendidik untuk menjadi pembawa kebaikan dalam setiap tindakan. Melalui rangkaian sesi yang tertata, nilai-nilai harapan dan kebaikan diperdalam sehingga para peserta dapat menerapkannya secara nyata di lingkungan sekolah.
Selama dua hari pendampingan, para peserta tidak hanya memasuki pengalaman rohani yang menguatkan, tetapi juga memperoleh dorongan untuk menyebarkan kabar baik melalui sikap, tutur kata, dan pelayanan sehari-hari. Di samping itu, dinamika kelompok dan momen hening membuat proses refleksi terasa lebih mendalam.
Bertempat di Sanggar Samadi Santa Clara Sentani, rekoleksi yang dipimpin oleh RD Paulus Tan berlangsung hangat, reflektif, dan penuh inspirasi. Dengan demikian, seluruh rangkaian kegiatan menjadi kesempatan berharga bagi para guru dan pegawai untuk memperbarui hati, memperkuat panggilan, dan meneguhkan diri sebagai peziarah harapan di tengah tugas pengabdian mereka.
Sesi 1: Memaknai Perjalanan sebagai Peziarah Harapan
Guru sebagai Pembawa Harapan
Pada sesi pembuka, RD Paulus Tan mengajak peserta melihat diri sebagai peziarah—pribadi yang terus berjalan, bertumbuh, dan membuka hati terhadap karya Tuhan. Selain itu, ia menegaskan bahwa guru bukan sekadar mengajar, melainkan juga hadir sebagai pembawa harapan bagi setiap murid. Dengan demikian, para pendidik diajak menyadari bahwa harapan yang sejati tidak bersumber dari kemampuan manusia semata, tetapi justru berasal dari Allah yang menuntun setiap langkah kehidupan.
Diskusi Kelompok yang Menguatkan Solidaritas
peserta dibagi ke dalam kelompok kecil untuk mendalami materi yang telah disampaikan. Melalui proses ini, mereka merefleksikan perjalanan mereka sebagai guru serta harapan yang mereka bawa dalam tugas pelayanan di SD YPPK Gembala Baik.
Selanjutnya, beberapa kelompok menyampaikan pesan mendalam, seperti:
“Semoga setiap langkah kita dipenuhi terang, dan setiap kata menjadi harapan baru bagi murid dan sesama.”
Baca juga : Sosialisasi E-Rapor SD YPPK Gembala Baik
Untuk memperdalam permenungan, narasumber kembali mengingatkan seruan dari tokoh-tokoh Kitab Suci—dari Abraham hingga Yesus—yang senantiasa memohon kekuatan agar dapat menjadi alat kebaikan bagi banyak orang. Dengan mengingat kisah-kisah ini, para peserta diajak menimba inspirasi dan memperbarui komitmen pelayanan.
Penutup Sesi: Harapan yang Dinyalakan Kembali
Pada akhirnya, sesi pertama ditutup dengan refleksi hening. RD Paulus Tan mengajak peserta membuka hati, membiarkan Tuhan menyalakan kembali harapan yang mungkin sempat meredup.
Sebagaimana ia menegaskan:
“Harapan mungkin meredup, tetapi biarlah setelah rekoleksi ini, harapan itu bersinar kembali.”
Sesi 2: Mewartakan Kebaikan dalam Tindakan Sederhana
Kekuatan Tindakan Kecil yang Mengubah
Memasuki sesi kedua, peserta diajak melihat bahwa kebaikan adalah inti pewartaan hidup Kristen. Pewartaan tidak selalu melalui kotbah besar; tindakan sederhana sering kali justru lebih menyentuh hati.
Teladan Para Kudus dalam Kehidupan Nyata
RD Paulus Tan menampilkan teladan Yesus serta para santo dan santa yang menghidupi kebaikan dalam tindakan nyata. Ia juga mengingatkan tantangan yang sering dihadapi: kebaikan yang tidak dihargai atau tidak terlihat. Tantangan ini menjadi panggilan bagi guru untuk tetap setia mewartakan kasih.
Pertanyaan Reflektif yang Menggugah
Peserta diajak merenungkan dua pertanyaan penting:
-
Apa hal baik dalam diri Anda yang masih “dibungkus plastik”?
-
Seberapa sering Anda menahan kasih karena merasa orang lain belum layak menerimanya?
Sesi kedua ditutup dalam hening, dengan renungan: kebaikan apa yang hendak saya wartakan mulai hari ini?
Sesi 3: Merajut Nama Baik Lewat Setiap Kata
Kekuatan Kata dalam Membangun Kehidupan
Pada sesi ketiga, refleksi berfokus pada Efesus 4:29–32. RD Paulus Tan menegaskan bahwa nama baik rohani bukan hanya reputasi, melainkan cerminan karakter Kristiani. Kata-kata memiliki kekuatan besar untuk membangun, menyembuhkan, dan menenun identitas diri.
Ia menjelaskan bahwa setiap kata adalah sehelai benang yang menenun kain kehidupan. Kata-kata lembut seperti pujian dan penghiburan memperindah kain itu, sedangkan kata kasar dapat menjadi noda yang sulit dihapus.
Guru sebagai Penenun Kebaikan
Peserta diajak memeriksa kembali “kain” kehidupan yang sedang mereka tenun di:
-
ruang kelas,
-
ruang guru,
-
pertemuan dengan orang tua murid.
Di akhir sesi, peserta diminta menulis satu kalimat ajakan sebagai pesan kebaikan bagi rekan-rekan.
Penutup Rekoleksi: Misa Kudus dan Seruan untuk Berjaga
Rangkaian rekoleksi ditutup dengan misa. Dalam homilinya, RD Paulus Tan menekankan pentingnya mempersiapkan kedatangan Tuhan pada masa Adven. Ia mengingatkan bahwa manusia sering terjebak dalam kebiasaan lama, sehingga butuh kesadaran baru.
Ia menegaskan:
“Jangan pernah berkata ‘masih ada waktu’. Itu suatu kebodohan.”
Dengan mengutip Rasul Paulus, ia mengajak peserta untuk bangun dari tidur rohani dan menyelaraskan ritme hidup dengan Tuhan. Rekoleksi ini menjadi ajakan untuk memulai masa Adven dengan berjaga, memperdalam relasi dengan Tuhan, dan menghadirkan kebaikan dalam setiap langkah dan tutur kata.










