Momen Hari Guru Lahirkan Cerita Lama
Momen Hari Guru Lahirkan Cerita Lama menjadi pintu yang kembali terbuka, membawa kita menelusuri perjalanan panjang seorang anak kecil bernama Dola. Sejak awal, alur kenangannya mengalir pelan namun pasti, sementara frasa kata kunci seperti kisah perjalanan menjadi guru, cerita masa kecil, dan kenangan Hari Guru terus menari lembut di antara kalimat-kalimatnya. Selain itu, ingatan-ingatan lama tersebut bergerak seperti angin yang, perlahan namun pasti, meniupkan kembali halaman hidup yang nyaris terlupakan. Dengan demikian, cerita ini bukan sekadar nostalgia, tetapi juga undangan untuk memahami bagaimana mimpi tumbuh, berubah, dan akhirnya menemukan jalannya sendiri.
Baca juga : Masa Lalu Pak Dola: Pelajaran Perjalanan & Inspirasi
Benih Mimpi di Masa Kecil
Sejak kecil, Dola memeluk mimpi menjadi seorang guru. Sejak itu, angin di halaman sekolah dasar berlari-lari membawa wangi buku dan riuh suara guru, sehingga setiap langkahnya terasa seperti ajakan lembut menuju dunia pendidikan. Tidak hanya itu, suara tawa teman-temannya pun sering berubah menjadi irama yang memantik imajinasinya tentang kelas dan papan tulis.
Ia pun menaruh hati pada sekolah SPG. Pada saat yang sama, ia melihat bagaimana lulusan SPG tampil seperti penyihir melodi—mereka membaca not dengan mudah, melatih paduan suara dengan percaya diri, dan menggerakkan tangan layaknya dirigen yang menuntun irama dunia. Karena itulah, mimpi menjadi guru tumbuh semakin kuat dalam dirinya, seolah masa kecilnya terus mendorongnya untuk mengikuti jejak yang sudah menari-nari di depan mata.
Baca juga: Mimpi Sejuta Dolar – Merry Riana
Namun, waktu tidak selalu sejalan dengan keinginan. Setelah tamat SD, ia masuk SMP dan berniat meneruskan ke SPG. Sayangnya, SPG tiba-tiba berhenti menerima siswa. Mimpi kecil itu melayang pergi seperti layang-layang yang putus talinya.
Langkah yang Berbelok Tak Terduga
Rencana ke SMEA yang Tak Selesai
Dengan cepat, Dola mengalihkan arah ke SMEA. Awalnya, ia berjalan dengan semangat yang berkobar, namun tubuhnya mulai melemah karena sakit. Akibatnya, tahun itu menjadi masa hening yang panjang. Dunia seakan memintanya berhenti sejenak, sementara itu ia menata ulang langkahnya dan menenangkan diri.
Setelah satu tahun pemulihan, ia kembali mencoba masuk SMEA. Meskipun begitu, takdir kembali membuka pintu baru, dan akhirnya ia mulai menyadari bahwa setiap belokan membawa pelajaran berharga dalam perjalanan hidupnya.
Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Di perjalanan menuju sekolah, tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang pemuda yang sedang berbicara dengan turis asing. Bahasa Inggris pemuda itu mengalir jernih, seakan seperti air sungai yang tenang mengalir di pagi hari. Saat itu juga, adegan sederhana itu mengguncang hatinya dengan lembut tetapi pasti.
Karena rasa ingin tahu yang semakin membara, ia pun mencari tahu lebih jauh, dan akhirnya mengetahui bahwa pemuda itu bersekolah di SMIP – Sekolah Menengah Industri Pariwisata. Tanpa menunggu lama, Dola memutuskan untuk mengubah haluannya dan memilih masuk SMIP, seperti akar pohon yang menemukan tanah baru untuk tumbuh dan berkembang.
Dari Dunia Pariwisata ke Dapur Impian
Keinginan Menjadi Chef
Selama tiga tahun di SMIP, dunia pariwisata membuka jendela baru baginya. Seiring berjalannya waktu, ia jatuh cinta pada dunia kuliner—aroma rempah yang memikat, denting panci yang riang, dan seni meracik rasa yang memukau indera. Dengan begitu, mimpinya perlahan berubah; ia ingin menjadi seorang chef dan melanjutkan pendidikan di akademi pariwisata.
Namun, sayangnya, jalan hidup kembali berbelok. Kesempatan masuk akademi itu tidak tercapai. Oleh karena itu, ia harus mencari arah baru, sambil tetap memelihara semangat dan tekadnya yang tak pernah padam.
STKIP: Gerbang yang Tak Pernah Benar-Benar Tertutup
Kembali ke Akar Mimpi Lama
Dola akhirnya melangkah masuk STKIP, memilih jurusan Bahasa Inggris. Ketika memasuki kampus itu, hatinya terasa hangat, seakan menemukan halaman lama yang pernah ia tulis dalam diam saat masih kanak-kanak. Mungkin inilah jawaban dari pintu SPG yang dulu tertutup tanpa penjelasan.
Belajar di STKIP menjadi fondasi kuat baginya. Setiap pelajaran, tugas, dan diskusi terasa seperti cahaya kecil yang membimbingnya kembali ke jalan yang tepat.
Bahasa Inggris yang Setia Menemani
Walaupun ia kemudian melanjutkan pendidikan di USTJ dengan jurusan berbeda, bahasa Inggris tetap menemaninya seperti sahabat lama yang tak ingin pergi. Bahasa itu membuka banyak pintu dan memberikan arah baru dalam hidupnya.
Saat Cerita Lama Menemukan Rumahnya










Satu Komentar