Beranda / Refleksi / Pace e Bene, Kakan Diken Arin Sare

Pace e Bene, Kakan Diken Arin Sare

Pace e Bene, Kakan Diken Arin Sare—salam ini mulai akrab terdengar di halaman sekolah YPPK yang teduh, di tengah riuh tawa dan langkah ceria anak-anak. Dengan penuh semangat, mereka saling menyapa, mengucapkan salam itu sambil tersenyum lebar. Bahkan, beberapa anak menambahkan balasan hangat: “Sempre Pace e Bene.”

Ketika Salam Lama Menemukan Makna Baru

Salam yang Terdengar Asing
Seiring waktu, salam ini perlahan-lahan menarik perhatian Pak Kodoong. Dari sudut halaman, ia mengernyitkan dahi; rasa penasarannya lebih besar daripada rasa terganggu. Selama bertahun-tahun mengajar, ia menyaksikan banyak istilah dan program baru silih berganti. Namun kali ini terasa berbeda. Sesuatu yang lebih dalam mendorongnya untuk menelusuri makna di balik salam tersebut.

Mencari Jejak Makna
Karena rasa ingin tahunya semakin besar, Pak Kodoong pun duduk di depan meja kayunya yang sederhana. Selanjutnya, ia membuka buku dan mulai menelusuri arti salam itu. Ia akhirnya menemukan bahwa “Pace e Bene” berasal dari bahasa Italia: pace berarti damai, sedangkan bene berarti kebaikan. Kata sempre berarti “selalu,” sehingga balasan “Sempre Pace e Bene” menegaskan harapan agar damai dan kebaikan senantiasa menyertai setiap orang.Dari Sapaan Menjadi Panggilan Hidup. Baca: https://bit.ly/Pace-Panggilan

Tak hanya itu, Pak Kodoong juga menyadari bahwa salam ini memiliki sejarah panjang dan kaya makna, yang membuatnya semakin ingin memahami konteks di balik setiap kata. Selain mempelajari sejarahnya, ia menemukan bahwa salam ini telah hidup sejak abad ke-13 dan terkait erat dengan Santo Fransiskus dari Assisi. Pada masanya, Santo Fransiskus berjalan dari kampung ke kampung sambil menyapa orang-orang dengan kalimat sederhana namun penuh makna: “Damai dan kebaikan bagimu.”

Mendengar itu, Pak Kodoong terdiam sejenak, kemudian berbisik pelan, “Ini bukan sekadar salam; ini adalah doa yang hidup dari zaman ke zaman.”

Salam yang Menyeberangi Zaman

Keesokan harinya, Pak Kodoong memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Dengan hati-hati, ia membuka grup WhatsApp keluarga Lamaholot dan menulis, “Pace e Bene, saudara-saudaraku.”

Tak lama kemudian, balasan muncul dari Ama Anton: “Sempre Pace e Bene.” Seketika, grup yang biasanya sepi menjadi hangat, dan percakapan mengalir ringan serta menyenangkan.

Ama Anton menulis, “Salam itu sudah lama hidup di antara nenek moyang kita di Lamaholot. Bahasanya saja yang berbeda. Kita menyebutnya: Kakan Dike Arin Sare—hidup damai dalam kebaikan.”

Mereka bahkan sempat bercanda:
“Jangan-jangan Santo Fransiskus copy paste dari Lamaholot!”
“Bisa juga!”

Canda sederhana itu meninggalkan kesan mendalam bagi Pak Kodoong.

Kesadaran yang Menghangatkan

Setelah percakapan itu, ia menatap layar ponselnya, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Saat itu, kesadaran penting muncul dalam pikirannya.

Santo Fransiskus memperkenalkan nilai yang ternyata tidak asing. Di sisi lain, nenek moyang Lamaholot juga menghidupi nilai yang sama: Kakan Dike Arin Sare—hidup damai dalam kebaikan.

Dengan demikian, dua dunia yang berbeda—Italia abad ke-13 dan tanah Lamaholot—bertemu dalam makna yang sama.

Bukan Sekadar Salam

Keesokan harinya di sekolah, Pak Kodoong berdiri di depan murid-muridnya. Suaranya hangat ketika berkata, “Anak-anak, ketika kalian mengucapkan ‘Pace e Bene’ dan menjawab ‘Sempre Pace e Bene,’ kalian tidak hanya memberi salam. Kalian sedang memilih cara hidup.”

Murid-murid pun terdiam, mendengarkan dengan saksama. Ia menambahkan, “Itu sama seperti pesan orang tua kita: Kakan Dike Arin Sare. Artinya, kita harus hidup dalam damai dan terus berbuat baik—di rumah, di sekolah, dan di mana pun kita berada.”

Damai yang Dihidupi

Sejak saat itu, rasa penasaran Pak Kodoong berubah menjadi tindakan nyata. Ia mulai menghidupi nilai tersebut setiap hari, mengekspresikannya melalui kata-kata, sikap, dan cara memperlakukan orang lain.

Setiap kali mengucapkan “Pace e Bene” dan mendengar balasan “Sempre Pace e Bene,” ia menyadari bahwa ia sedang merajut dua warisan besar: warisan iman dari Santo Fransiskus dan warisan budaya dari tanah Lamaholot.

BACA JUGA : Rekoleksi Guru YPPK Berubah

Pesan yang Tak Pernah Usang

Akhirnya, kisah Pak Kodoong memang sederhana, tetapi pesannya tetap kuat. Damai dan kebaikan bukan milik satu budaya, satu zaman, atau satu bahasa. Sebaliknya, nilai itu hidup di mana saja, selama manusia bersedia menghidupinya.

Mungkin benar seperti canda Ama Anton, tetapi yang terpenting bukan siapa yang lebih dahulu memulai. Yang utama adalah apakah hari ini kita sudah hidup dalam damai dan kebaikan.

Pace e Bene, kakan diken arin sare

Pace e Bene.
Sempre Pace e Bene.
Kakan Dike Arin Sare.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *