Beranda / Cerpen / 10 Tahun Mencicil Harapan Pak Kodoong

10 Tahun Mencicil Harapan Pak Kodoong

Langkah Baru di Pagi Hari

Bagi banyak orang, sepuluh tahun adalah angka yang panjang untuk sebuah cicilan. Namun bagi Pak Kodoong, setiap rupiah yang ia sisihkan adalah detak jantung dari sebuah impian: memiliki tempat di mana ia bisa berdoa dengan tenang. Pagi itu, dengan kemeja sederhana dan seuntai rosario yang melingkar di jemarinya, ia melangkah menuju Gereja Paroki di salah satu kabupaten wilayah Keuskupan Jayapura. Ia bukan lagi tamu yang sekadar lewat; ia adalah seorang pejuang yang datang untuk menjemput rumah bagi imannya. https://www.facebook.com/parokisentani/?locale=id_

Di dalam gereja, ia tidak hanya hadir secara fisik. Ia berdiri, duduk, dan berlutut dengan khusyuk, menyerap setiap Sabda seolah sedang mengisi kembali jiwanya yang telah lama mendamba ketenangan di wilayah tersebut.

Pondok yang Dibangun di Atas Cicilan dan Doa

Pondok kecil di pinggir kampung itu adalah monumen kesabaran. Di balik setiap lembar papan dan atap seng yang kini melindunginya, ada lembaran tagihan kredit rumah yang harus ia lunasi dengan penuh peluh selama satu dekade. Ia tidak membangunnya dalam semalam; ia memulainya dengan tangan kosong—membersihkan semak belukar hingga menanam tiang kayu dengan tangannya sendiri.

Setiap kali rasa lelah akibat beban cicilan menyapa, Pak Kodoong akan duduk bersandar dan membayangkan masa depan: sebuah pagi di mana ia terbangun sebagai warga setempat yang diakui. Pondok itu bukan sekadar aset finansial, melainkan simbol iman yang ia cicil dengan ketekunan.

Bangunan ini adalah saksi bisu 10 tahun ketekunan Pak Kodoong di bawah langit Jayapura.

Menemukan Keluarga di Kelompok Basis

Meskipun pondok itu telah berdiri kokoh, Pak Kodoong merasa ada sesuatu yang masih kurang. Ia memiliki rumah, namun demikian, ia belum sepenuhnya memiliki komunitas. Karena itulah, ia merindukan kebersamaan dengan umat lain melalui Kelompok Basis Gerejani (KBG).

Menjemput Harapan di Ujung Lorong Marini

Suatu sore yang berangin, jawabannya akhirnya datang. Seorang tetangga bernama Pak Martin menyapanya dengan ramah. Kemudian, Pak Martin berkata, “Di sini kita masuk KBG Santa Faustina. Ketua KBG-nya Pak Lukas.”

Mendengar itu, hati Pak Kodoong dipenuhi harapan. Tanpa menunda lagi, ia mencatatkan namanya sebagai anggota umat. Tidak lama kemudian, Pak Lukas dan warga lainnya menyambutnya dengan hangat. Akibatnya, perasaan asing yang selama ini ia rasakan perlahan menghilang. Akhirnya, ia menemukan sesuatu yang selama ini ia cari: sebuah keluarga.

 Syukuran Sederhana: Kaya dalam Kebersamaan

Sebagai ungkapan syukur, Pak Kodoong tidak mengadakan pesta mewah. Sebaliknya, ia memilih kesederhanaan. Baginya, rumah yang diberkati adalah rumah yang terbuka bagi sesama.

Pada sore itu, aroma lele bakar mulai memenuhi udara. Sementara itu, kepulan asap dari panggangan sederhana menjadi undangan alami bagi warga KBG Santa Faustina. Tak lama kemudian, mereka mulai berdatangan.

Kemudian, mereka duduk melingkar dengan penuh kehangatan. Meskipun tanpa kemewahan, suasana terasa sangat istimewa. Selain itu, tawa dan percakapan tulus membuat kebersamaan terasa semakin bermakna. Pada saat itulah, Pak Kodoong menyadari sesuatu yang penting.

Ia mungkin belum kaya secara materi. Namun demikian, ia sangat kaya dalam persaudaraan. Dengan demikian, makan bersama itu bukan sekadar pertemuan biasa. Sebaliknya, itu adalah perayaan iman, syukur, dan kebersamaan.

 Closing: Dari Bangunan Menjadi Rumah

Kini, di ujung gang kecil yang dulu terasa sepi, pondok itu berdiri dengan penuh makna. Lebih dari itu, pondok itu menjadi bukti bahwa perjuangan tidak pernah sia-sia jika dijalani dengan iman.

Memang, sepuluh tahun mencicil bukan hanya tentang melunasi hutang kepada bank. Sebaliknya, itu adalah perjalanan untuk melunasi janji kepada diri sendiri dan kepada Tuhan. Oleh sebab itu, setiap pengorbanan yang ia lakukan kini terasa bermakna.

Sekarang, Pak Kodoong tidak hanya memiliki sebuah bangunan. Ia juga memiliki keluarga, komunitas, dan tempat untuk pulang. Dengan demikian, pondok itu tidak lagi sekadar hasil cicilan. Akhirnya, pondok itu benar-benar menjadi sebuah Rumah—tempat di mana cinta, iman, dan harapan hidup bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *