Pasio Jumat Agung Menguatkan Iman
Awal Kisah Pasio Jumat Agung yang Mengubah Hidup
Pasio Jumat Agung: Dari Takut Menjadi Kuat tidak lahir dari keberanian, melainkan dari momen ketika saya hampir berkata “tidak”, tetapi Tuhan memanggil saya untuk tetap melangkah.
Saat itu, dengan ragu saya berkata,
“Saya takut, Bu… saya belum pernah pasio,” kepada Ibu Lestari.
Namun beliau tersenyum, setenang fajar yang mengusir gelap.
“Tidak apa-apa. Tuhan tidak menunggu kamu siap, Dia hanya menunggu kamu mau.”
Sejak itu, kalimat sederhana itu perlahan mengetuk hati saya lebih dalam.
Panggilan Pertama dalam Pasio Jumat Agung
Pada tahun 2017, KBG Santo Fransiskus Xaverius mendapat tugas memandu lagu Jumat Agung. Seperti biasanya, tim koor juga menyiapkan pasio.
Namun, saat mereka meminta tiga orang dari tiga KBG, tidak satu pun bersedia.
“Maaf, kami belum siap…”
Jawaban itu datang silih berganti, seolah menggema di ruang kosong.
Akibatnya, suasana hening terasa semakin panjang.
Ketika Tak Ada yang Bersedia Melangkah
Akhirnya, Ibu Lestari menunjuk saya, Bapak Soewarto, dan Pak Tukan.
Awalnya, saya menolak dalam hati. Tugas itu terasa seperti gunung tinggi yang harus saya daki tanpa persiapan. Namun perlahan, saya memilih menerima—bukan karena sudah mampu, tetapi karena saya mulai percaya.
Proses Latihan yang Menempa Iman
Selanjutnya, kami mulai berlatih di berbagai tempat—di rumah, di ruang sederhana, bahkan ditemani angin sore.
Setiap latihan selalu kami awali dengan doa.
“Biar Tuhan yang pimpin suara kita,” ujar Pak Soewarto.
Dalam pasio itu, saya memerankan Petrus, Pak Soewarto memerankan Yesus, dan Pak Tukan menjadi dalang.
Pada awalnya, suara kami masih terhuyung, seperti bayi yang baru belajar berjalan. Namun seiring waktu, kami mulai menemukan keseimbangan.
Latihan demi latihan membentuk kekompakan kami. Ketika kami bergabung dengan umat dari KBG lain, nada-nada itu perlahan menyatu, seperti aliran kecil yang akhirnya bertemu di laut yang sama.
Baca Juga : https://ceritapakkodoong.site/menjemput-harapan-di-ujung-lorong-marini/
Detik Menegangkan Jumat Agung 2017
Akhirnya, hari itu tiba.
Umat memenuhi gereja, dan suasana hening menyelimuti ruangan, seolah langit ikut menunduk.
Untuk pertama kalinya, saya mengenakan jubah merah. Saat itu, jubah itu terasa hidup—seolah berbisik, “Ini bukan sekadar peran, ini panggilan.”
“Tenang saja,” bisik Pak Tukan.
Kemudian, kami melangkah ke mimbar. Lonceng berbunyi, dan pasio pun dimulai.
Saat tiba giliran saya sebagai Petrus, saya langsung terkejut. Nadanya jauh lebih tinggi dari biasanya.
“Ini tinggi sekali…” batin saya panik.
Namun saya tetap bernyanyi. Suara saya naik, seperti burung yang terbang lebih tinggi dari biasanya. Anehnya, saya mampu melewatinya.
Setelah itu, kami kembali ke sakristi.
“Maaf, tadi nadanya ketinggian,” kata Pak Tukan.
Saya tersenyum kecil.
“Pantas saja… tapi saya bisa lewati,” jawab saya, masih tak percaya.
Keesokan harinya, tubuh saya merespons keras—dada terasa sakit dan suara serak. Meski begitu, hati saya terasa penuh, seperti bejana yang baru saja terisi.
Panggilan Kedua yang Menguatkan (2019)

Beberapa waktu kemudian, pada tahun 2019, saya menjadi penggerak KBG. Namun tantangan yang sama kembali datang.
Saya menghubungi banyak orang.
“Belum siap…”
“Maaf, tidak bisa…”
Sekali lagi, jawaban itu kembali terdengar, seolah mengulang masa lalu.
Karena itu, saya memutuskan untuk maju sendiri.
Namun kali ini berbeda. Saya tidak lagi memerankan Petrus, tetapi dipercaya memerankan Yesus.
Pak Tukan kembali menjadi dalang, meski sudah pindah KBG, dan Pak Lito memerankan Petrus.
“Ko, kita jalan lagi ya,” kata Pak Tukan.
Saya mengangguk.
“Kita jalan. Kali ini lebih siap.”
Latihan yang Memberi Makna Baru
Sejak itu, kami kembali berlatih setiap sore. Matahari menjadi saksi, angin menjadi teman, dan doa tetap menjadi awal.
Namun kini, saya merasakan perubahan.
Jika dulu saya hampir padam seperti lilin kecil, sekarang saya mulai memahami cara menjaga api tetap menyala.
Saya tidak hanya menyanyikan peran Yesus—saya menghidupinya.
Setiap nada berbicara, dan setiap kata terasa nyata.
Makna Pasio Jumat Agung yang Menguatkan Iman
Baca selengkapnya tentang tradisi Jumat Agung dunia: bit.ly/TradisiJumatAgung
Dari dua pengalaman itu, saya akhirnya memahami satu hal sederhana namun dalam:
Tuhan bekerja melalui proses.
Rasa takut membuka langkah.
Keraguan menemani perjalanan.
Namun keberanian tumbuh sebagai hasilnya.
Pasio bukan sekadar nyanyian. Ia menjadi perjalanan hati—dari ragu menjadi percaya, dari lemah menjadi kuat.
Dalam hidup, kita pun sering menghadapi “nada tinggi” yang terasa sulit dijangkau.
Namun saat kita tetap memilih bernyanyi dan melangkah, kita akan menyadari satu hal:
Kita tidak pernah sendiri.
Sebab di setiap nada yang kita perjuangkan, Tuhan diam-diam menguatkan, dan di sanalah Pasio Jumat Agung: Dari Takut Menjadi Kuat menemukan maknanya yang paling dalam.
