Beranda / Refleksi / Menemukan Syukur di Rasa Manis dan Pahit Hidupku, Bangkit

Menemukan Syukur di Rasa Manis dan Pahit Hidupku, Bangkit

Syukur kepada Tuhan atas usia dan pekerjaan yang sudah dijalankan

Menemukan Syukur di Rasa Manis dan Pahit Hidupku, Bangkit membawa saya menelusuri setiap liku perjalanan hidup, dari momen manis yang memberi semangat hingga pahit yang menjadi pelajaran berharga. Kedua rasa ini—manis dan pahit—sebagai bumbu dan warna kehidupan, membentuk pengalaman yang membimbing saya menjadi pribadi yang lebih kuat. Dengan bersyukur atas setiap jatuh dan bangkit, saya menyadari bahwa setiap rasa dalam hidup, baik manis maupun pahit, memiliki peran penting dalam membentuk karakter, ketahanan, dan arah hidup saya.

Baca juga : Jaga Perkataan, Bangun Hidup dan Nama Baik

Membuka Kembali Kisah Perjalanan Hidup: Menyadari Rasa Manis dan Pahit

Hari ini saya dengan sengaja membongkar kembali banyak cerita. Saya melihat perjalanan saya yang panjang, penuh kesalahan, dosa, kegagalan, ujian, dan keputusasaan. Saya mengabadikan perjalanan hidup saya—dengan segala rasa manis dan pahitnya—dalam Cerpen Antologi Meraih Mimpi di Bawah Langit Baru.

Kini, saya ingin menelusuri kisah tersebut dengan lebih reflektif, menyadari setiap jatuh dan bangkit sebagai bagian dari perjalanan hidup penuh liku yang patut disyukuri

Rasa Pahit yang Membentuk Karakter: Pelajaran dari Setiap Kejatuhan

Dalam perjalanan hidup ini, pahitnya sangat terasa. Saya sering jatuh dan membuat keputusan keliru yang menghilangkan kesempatan penting. Ada masa ketika saya menyalahkan diri sendiri, merasa putus asa, dan hampir menyerah.

Namun justru dari titik-titik terendah itulah saya belajar bangkit dan memperbaiki diri. Saya belajar menjaga semangat. Rasa pahit dalam kehidupan menjadi guru yang membentuk ketahanan, kesabaran, dan kemampuan untuk menghadapi tantangan berikutnya—persis seperti refleksi yang dijabarkan dalam artikel “Belajar dari Pahitnya Hidup dan Cara Bangkit Kembali” di Lemon8:

Rasa Manis yang Menguatkan: Orang Baik dan Kesempatan yang Membuka Jalan

Meski pahitnya banyak, Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Ia mengirim orang-orang baik di waktu yang tepat.

Bapak Wilhelmus Wio, Sosok Pembuka Jalan

Beliau adalah orang pertama yang kembali menghadirkan rasa manis dalam hidup saya. Sosok sederhana itu membangkitkan semangat saya, membuat saya meninjau ulang keputusan-keputusan salah yang pernah saya ambil, dan memberikan saya pekerjaan yang membuka pintu baru dalam hidup saya. Kebaikan hati beliau tidak akan saya lupakan.

👑 Baca juga : Strategi Pergantian Peran Tingkatkan Motivasi Siswa SD

Tuhan mempertemukan saya dengan pendamping hidup

Tidak berhenti di situ, Tuhan kemudian mempertemukan saya dengan seseorang yang kini menjadi pendamping hidup saya. Kami menikah setelah gereja dan negara mengesahkan kami. Walaupun saya tidak punya apa-apa, ia tetap memilih hidup bersama saya.

Kami memulai hidup dari nol. Banyak kekurangan, banyak perjuangan, namun kami tetap berjalan bersama. Kami bekerja keras agar hidup kami cukup, layak, dan penuh harapan.

Pekerjaan Baru dan Luka Lama: Campuran Rasa Manis dan Pahit

Pekerjaan baru saya waktu itu sebenarnya belum apa-apa. Gaji hanya cukup untuk membayar kos, dan hidup kami menjadi campuran manis serta pahit. Meski begitu, saya tetap menjalani tugas itu dengan sukacita.

Di tengah rutinitas tersebut, seseorang menyuruh saya belajar lagi. Alih-alih merasa senang, saya justru merasakan Luka lama kembali membuka dirinya—luka karena keputusan masa lalu untuk berhenti sekolah. Seandainya dulu saya tidak begitu keras kepala, mungkin jalan hidup saya berbeda.

Bagaimanapun, Kita tidak bisa mengulang masa lalu. Karena itu, saya memilih menerima tawaran tersebut. Setelah berdiskusi dengan pendamping saya, akhirnya kami sepakat bahwa saya harus kuliah lagi.

Kembali ke Bangku Kuliah: Menghidupkan Kembali Rasa Manis

Saat kembali belajar, saya langsung teringat pada masa puluhan tahun lalu. Saya bahkan teringat pada seorang teman kuliah yang dulu saya kira adalah dosen karena semangat belajarnya yang luar biasa. Suasana itu kembali saya rasakan sekarang—meskipun masanya berbeda, atmosfer belajarnya tetap sama. Namun tujuan saya kini sudah berubah dan jauh lebih matang.

Saya memilih belajar sungguh-sungguh untuk meraih selembar ijazah yang dulu gagal saya dapatkan. Tantangannya besar karena saya harus membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah. Kadang saya meninggalkan kerja demi mengikuti kelas, dan kadang saya menunda kuliah karena harus bekerja.

Meski prosesnya berat, saya tetap melangkah. Perlahan-lahan, saya menyelesaikan masa kuliah yang terasa panjang itu.

Pertolongan, Berkat, dan Beasiswa: Jalan Menuju Rasa Manis

Di awal kuliah, saya kesulitan soal biaya. Syukurlah, pasangan saya memiliki tabungan yang bisa menolong kami. Untuk semester pertama, uang pribadi menjadi penopang utama. Setelah itu, Tuhan membuka jalan baru melalui beasiswa akademik dari pihak kampus.

Bukan karena saya mahasiswa termuda atau tertua, tetapi karena saya memiliki pengetahuan yang sedikit lebih baik dibanding beberapa teman saya.

Dan pada akhirnya, saya lulus dengan peringkat 10 besar di jurusan saya.
Akhirnya saya menikmati rasa manis itu—rasa manis yang seharusnya saya dapatkan 12 tahun lalu.

Mengakhiri Sebuah Bab Perjalanan

Hari ini saya bersyukur atas hidup dan pekerjaan saya. Saya merasa perjalanan panjang ini tepat untuk saya tutup. Bab penuh manis dan pahit itu harus saya lepaskan agar langkah berikutnya terbuka lebih luas. Perpisahan dengan fase tersebut menjadi bentuk penghormatan atas apa yang sudah membentuk saya hingga hari ini.

Terima Kasih untuk Orang-Orang yang Menjadi Berkat

Bapak Wilhelmus Wio

Beliau memberikan saya pekerjaan, memotivasi saya belajar Bahasa Inggris, dan mempercayai kemampuan saya hingga saya bisa mengantar siswa meraih juara lomba pidato Bahasa Inggris.
Dulu belum ada AI. Yang ada hanya Google—dan harus bayar di warnet!

Suster Theresita

Suster berkata tegas,
“Kalau kamu masih mau mengajar Bahasa Inggris, kamu harus kuliah lagi. Kalau tidak, kamu jadi TU saja.”
Kalimat itu menampar saya, sekaligus menyelamatkan jalan saya.

Ibu Sungkono

Beliau mengajarkan saya tentang kedisiplinan, kerapian berpakaian, dan ketelitian dalam administrasi. Ucapannya selalu mengingatkan saya pada seorang teman kuliah yang adalah seorang frater HHK di STKIP YPUP Ujung Pandang. Frater itu selalu memperhatikan cara kami berpakaian, terutama ketika ada kancing baju yang tidak terpasang penuh. Ia sering berkata tegas,
“Baju harus kancing semua.”

Almarhumah Ibu Lestari

Beliau membuat saya percaya bahwa saya memiliki talenta lain.. Itulah mengapa, ketika rekan guru yang biasa mengiringi upacara pindah sekolah, saya belajar musik secara otodidak.
Sayangnya, setelah Tuhan memanggil beliau, semangat bermusik saya perlahan ikut meredup.

Ibu Clara

Beliau membimbing saya dalam bekerja dan pernah menjadi rekan sekaligus pemimpin. Dari beliau saya belajar banyak hal tentang tanggung jawab dan integritas.

Teman-teman Semua

Teman yang berjalan bersama saya, yang mendukung, dan yang kadang saya sakiti. Hari ini, izinkan saya meminta maaf.

Saya telah mengabadikan perjalanan hidup saya—dengan segala rasa manis dan pahitnya—dalam Cerpen Antologi Meraih Mimpi di Bawah Langit Baru.

Melanjutkan Perjalanan atau Mengakhiri?

Hari ini saya menutup sebuah perjalanan panjang.
Apakah saya akan melanjutkan langkah berikutnya, meskipun mungkin tidak sepanjang yang dulu?
Entahlah—saya belum tahu pasti.

Namun satu hal yang jelas: semuanya saya serahkan pada Gusti Allah dan pada sosok pemimpin saya saat ini, Ibu Sari.
Dengan hati yang lebih ringan, saya melangkah kembali karena sudah berdamai dengan rasa manis dan pahit hidupku.

Saya juga merangkum kisah perjalanan itu dalam buku Meraih Mimpi di Bawah Langit Baru. Semoga apa yang saya bagi dapat menjadi pelajaran bagi pembaca dan menjadi pengingat berharga bagi diri saya sendiri.

Tag:

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *